AALI
10425
ABBA
424
ABDA
0
ABMM
1500
ACES
1405
ACST
282
ACST-R
0
ADES
2550
ADHI
1185
ADMF
7975
ADMG
228
ADRO
1860
AGAR
346
AGII
1515
AGRO
2010
AGRO-R
0
AGRS
204
AHAP
64
AIMS
406
AIMS-W
0
AISA
240
AISA-R
0
AKKU
50
AKPI
635
AKRA
4280
AKSI
430
ALDO
705
ALKA
234
ALMI
234
ALTO
308
Market Watch
Last updated : 2021/10/15 Data is a realtime snapshot, delayed at least 10 minutes
IDX30
517.26
-0.05%
-0.28
IHSG
6633.34
0.11%
+7.22
LQ45
972.21
-0.05%
-0.45
HSI
25330.96
1.48%
+368.37
N225
29068.63
1.81%
+517.70
NYSE
16744.29
1.4%
+231.13
Kurs
HKD/IDR 1,817
USD/IDR 14,150
Emas
812,528 / gram

RI Sudah Siap Hadapi Dampak Kebijakan Tapering Off Amerika Serikat

ECONOMICS
Advenia Elisabeth/MPI
Jum'at, 17 September 2021 10:16 WIB
Banyak negara mewaspadai langkah Bank Sentral Amerika Serikat atau The Fed yang melakukan pengetatan kebijakan moneter (tapering off) tahun ini.
RI Sudah Siap Hadapi Dampak Kebijakan Tapering Off Amerika Serikat (FOTO: Reuters)

IDXChannel - Banyak negara mewaspadai langkah Bank Sentral Amerika Serikat atau The Fed yang melakukan pengetatan kebijakan moneter (tapering off) tahun ini. Indonesia dianggap sudah lebih siap jika kebijakan tersebut dilakukan AS.

Indonesia Value Investor Direktur PT Indonesia Utama Mandiri Rivan Kurniawan mengatakan kapanpun tapering off itu dilakukan, dampak yang terjadi untuk Indonesia tidak terlalu signifikan seperti tahun 2013.
 
“Tahun ini kita jauh lebih kuat dibandingkan 2013 kemarin. Misalnya seperti cadangan USD, di tahun 2013 kita hanya USD92 miliar. Sementara pada akhir Juli 2021, USD137 miliar. Secara overall, fundamental kita lebih kuat,” ujarnya dalam Power Breakfast, Jumat (17/9/2021).
 
Sehubungan dengan itu, ia pun menilai di tahun ini pemerintah sudah jauh lebih siap lantaran sudah belajar dari pengalaman sebelumnya pada tahun 2013 silam.
 
Terkait dengan keputusan tapering off yang diiringi dengan kenaikan suku bunga, menurut Rivan jika The Fed melakukannya tidak secara bersamaan, dalam hal ini tapering off dilakukan pada 2021 dan kenaikkan suku bunga pada tahun depan yakni 2022, maka tidak akan terjadi guncangan yang besar.
 
“Kalaupun ada guncangan, paling tidak terlalu besar dan hanya jangka pendek,” imbuhnya.
 
Sementara itu, belum lama ini Badan Pusat Statistik (BPS) telah merilis neraca perdagangan Indonesia. Diketahui neraca perdagangan di Agustus 2021 mencetak surplus sebesar 4,74 miliar dollar AS. Adapun dari sisi komoditas terutama pertambangan batu bara kembali memberikan kontribusi sangat besar.
 
Terkait hal tersebut, Rivan menuturkan hal itu karena sektor komoditas adalah salah satu sektor yang tidak terlalu terdampak dengan adanya tapering off. Bahkan, menurutnya sektor ini diuntungkan dengan adanya perbaikan ekonomi.
 
“Sektor ini bisa dibilang justru diuntungkan meskipun di tengah pandemi. Karena sejumlah harga komoditas, salah satunya batu bara terus mencapai titik tertingginya. Nah ini juga menjadi indikator positif bahwa kita sebagai investor saat ini risikonya bisa dikatakan cukup rendah untuk berinvestasi di sektor komoditas,” terangnya.
 
Ia menambahkan, dalam beberapa waktu kedepan harga batu bara akan tetap bertahan di level atas selama produksi batu bara masih bisa tetap terjaga. (RAMA)

Rekomendasi Berita
Berita Terkait
link copied to clipboard
COPY TO CLIPBOARD