Kondisi tersebut akan memaksa pengeluaran devisa impor minyak secara kumulatif periode 2026–2030 (asumsi harga USD90/barel) hingga mencapai USD181,3 miliar (±Rp3.043 triliun) pada skenario terbaik, atau akan meningkat hingga USD217,9 miliar (±Rp3.656 triliun) pada skenario terburuk.
Indonesia memiliki total 128 cekungan migas, di mana sekitar 68 cekungan di antaranya belum dieksplorasi secara memadai. Meskipun demikian, tren prospektivitas bergerak positif sepanjang 2022–2026 dengan penemuan skala besar (giant/big fish), seperti Blok Andaman II (Timpan-1 sebesar ±2 TCF gas), Kutai/Ganal (Geng North-1 sebesar ±5 TCF gas + 400 juta barel kondensat), South Andaman (Layaran-1 sebesar ±6–6,5 TCF gas-in-place dan Tangkulo-1 sebesar ±2 TCF gas), Muara Bakau (Konta-1 sebesar ±600 Bcf–1 TCF gas), serta Blok Ganal (Geliga-1 pada April 2026 sebesar ±5 TCF gas dan 300 juta barel kondensat).
Komaidi mengatakan realisasi pengeboran sumur eksplorasi nasional periode 2021–2026 dilaporkan berada di bawah target tahunan akibat kendala operasional: tahun 2021 terealisasi 28 dari target 41 sumur (68,3 persen); pada 2022 terealisasi 31 dari target 42 sumur (73,8 persen); 2023 terealisasi 41 dari target 57 sumur (71,9 persen); 2024 terealisasi 39 dari target 50 sumur (78 persen); 2025 terealisasi 24 dari target 46 sumur (52,2 persen) per Oktober; dan per 31 Mei 2026 baru terealisasi 5 dari target 39 sumur (12,8 persen).
Kualitas teknis hulu Indonesia pada dasarnya relatif kompetitif dengan rasio keberhasilan geologis (geological success ratio) nasional pada 2020–2024 bergerak di kisaran 52–74% (rata-rata sederhana 63,2 persen) yang menghasilkan akumulasi 3.984,81 MMBOE P50 post-drill dari 144 sumur. Berdasarkan laporan IHS Markit per April 2026, indikator Activity & Success Indonesia di Asia Pasifik menempati peringkat ke-4 dari 15 negara dengan skor yang naik dari 5,00 (2020) menjadi 6,03 (2026).
Terkait eksplorasi migas, Pertamina melalui sub-holding hulu (PHE) memegang peran krusial sebagai pelaku utama hulu migas domestik dengan berkontribusi memasok sekitar 55–56 persen produksi minyak nasional serta 29–30 persen lifting gas nasional (rata-rata periode 2025–2026).