Di sisi lain, dalam rilis BPS, rerata harga telur ayam ras di tingkat konsumen secara nasional sampai minggu pertama Maret 2026 tercatat masih melampaui HAP. Catatan BPS menunjukkan hanya 53 kabupaten/kota yang mengalami penurunan Indeks Perkembangan Harga (IPH) telur ayam ras di pekan pertama Maret ini.
Terpisah, Kepala Bapanas Andi Amran Sulaiman yang juga Menteri Pertanian mengatakan Indonesia telah surplus untuk komoditas telur ayam.
Pasokan melimpah dari produksi dalam negeri, bahkan Indonesia bisa ekspor. Dengan kondisi tersebut, Amran meminta tidak ada kenaikan harga yang membuat masyarakat resah selama Ramadan dan Idulfitri ini.
"Kita telur ayam sudah surplus, bahkan ekspor. Jadi aku minta tidak ada alasan harga naik di masyarakat. Kalau sampai ada kenaikan, aku minta Satgas Saber telusuri sampai distributor dan produsennya. Tidak boleh ada yang membuat anomali harga pangan," kata Amran.
Terkait surplus telur ayam ras secara nasional turut didukung pula oleh Bapanas melalui Proyeksi Neraca Pangan. Produksi telur ayam ras dalam negeri selama setahun yang berkisar di 7,32 juta ton diestimasikan mampu menopang kebutuhan konsumsi nasional yang berada di angka 6,47 juta ton.
(kunthi fahmar sandy)