IDXChannel - Pemerintah masih bersikukuh tidak melakukan revisi asumsi ekonomi makro hingga memasuki kuartal II-2026 di tengah eskalasi geopolitik di Timur Tengah yang mengerek harga minyak dunia hingga USD100-an per barel.
Padahal, harga minyak menjadi satu di antara indikator asumsi dasar ekonomi makro dalam penyusunan APBN.
Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia M Faisal mengatakan, dari sekian banyak masalah kondisi makro Indonesia tahun ini, kerentanan fiskal menjadi yang paling berat menekan perekonomian nasional.
Asumsinya adalah melihat dari APBN yang di kuartal I-2026 ini sudah defisit Rp200-an triliun, atau 2,5 kali defisit dibandingkan tahun lalu.
Akibatnya, tata kelola fiskal oleh pemerintah menjadi sorotan publik dan juga investor, yang turut memengaruhi kondisi moneter seperti tekanan pada nilai tukar rupiah sejauh ini yang cukup lama berada di angka Rp17.000-an.