"Jadi, artinya masih memungkinkan dalam kondisi harga minyak di level USD90-an per barel ini, tapi memang perlu harus disiapkan juga opsi-opsi berikut, jika opsi-opsi yang lain kalau harga minyak terus di atas 100 dolar ya dalam bulan-bulan ke depan," kata dia.
Menurutnya, pemerintah perlu melakukan manajemen dari sisi fiskal yang lebih kuat dan meyakinkan investor akan kehati-hatian dalam pengelolaan fiskal, termasuk terutama yang menjadi sorotan juga adalah menjalankan program prioritas nasional, tak hanya MBG, tapi juga Koperasi Desa Merah Putih.
Dalam kajian Core, kredibilitas fiskal pada kuartal I-2026 tertekan oleh lonjakan subsidi BBM di tengah belanja front-loading yang mendorong defisit ke level Rp240,1 triliun atau 34,8 persen dari target tahunan, laju tertinggi dalam lima tahun terakhir.
Dengan skenario ICP USD112/barel, defisit berpotensi menembus 3,56 persen PDB sehingga target efisiensi Rp121–130 triliun habis terserap tambahan subsidi.
Faisal mengatakan soal peningkatan harga minyak mentah dunia berpotensi menjalar ke naiknya inflasi domestik akibat biaya produksi yang semakin mahal. Di dalam negeri, kenaikan harga minyak mentah dunia telah mendorong pemerintah menaikkan harga BBM non-subsidi pada 18 April 2026.
Dia mewanti-wanti akan ketahanan kebijakan fiskal pada kuartal I-2026 menghadapi ujian dari beberapa sisi secara bersamaan. Eskalasi konflik geopolitik di sekitar Selat Hormuz mendorong kenaikan beban subsidi dan kompensasi Bahan Bakar Minyak (BBM) secara drastis, dengan realisasi hingga Februari 2026 telah mencapai Rp51,5 triliun atau tumbuh 382,6 persen secara tahunan.