"Nah, kalau melihat harga minyak sekarang nih, bahwa dari simulasinya CORE itu kalau harga minyak itu di kisaran 84 sampai 92 dolar rata-rata ya, maka akan ada defisit APBN tambahannya itu Rp100 triliun. Nah, sekarang sudah sekian lama harga ICP-nya kan di USD100-an per barel, yang kalau dirata-ratakan saya perkirakan sudah di 90-an dolar per barel ya dari year-to-date, dari Januari sampai dengan April. Jadi artinya sudah defisit APBN-nya kita prediksikan sudah jelas di atas 100 triliun tambahan defisitnya untuk menutupi subsidi energi," urai Faisal saat dihubungi IDX Channel, Sabtu (2/5/2026).
Faisal mengingatkan pemerintah untuk perlu merancang strategi fiskal kembali seraya menggunakan anggaran secara penuh kehati-hatian (prudent). Hal ini demi menjaga kesehatan fiskal supaya tidak tembus 3 persen terhadap PDB.
"Dan efisiensi saja tidak cukup ya, pemerintah kan memang sudah merencanakan efisiensi sampai kalau tidak salah Rp130 triliun di tahun ini. Nah, tapi dengan masih tingginya harga ICP dunia, berarti memang perlu juga ada relokasi dan refocusing," ujar dia.
Dia menitikberatkan keputusan soal penutupan sejumlah Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) dan jatah pemberian program menjadi lima hari memang sekurang-kurangnya mengurangi beban APBN. Namun, itu saja tidak cukup.
Sebab, kata dia, perlu ada keberpihakan pada perbaikan untuk mengalokasikan anggaran ke pos yang membutuhkan, seperti sektor energi.