IDXChannel - Laba Shell melampaui perkiraan pada kuartal I-2026, mencapai USD6,9 miliar atau sekitar Rp119 triliun.
Dilansir dari The Business Times pada Kamis (7/5/2026), angka tersebut merupakan yang tertinggi dalam dua tahun terakhir
Pencapaian tersebut didorong oleh lonjakan harga minyak akibat perang di Timur Tengah. Perusahaan juga mengumumkan rencana menaikkan dividen sebesar 5 persen.
Di saat yang bersamaan, bank tersebut akan memperlambat program pembelian kembali atau buyback saham triwulanan menjadi USD3 miliar (Rp51,94 triliun) dari USD3,5 miliar (Rp60,6 triliun).
Hal ini untuk mengatasi risiko kekurangan likuiditas jangka pendek. Gangguan pasokan energi terkait perang di Timur Tengah meningkatkan utang perusahaan.
Keuntungan di unit kimia dan produknya, yang mencakup penyulingan da perdagangan minyaknya, adalah USD1,93 miliar (Rp33,43 triliun), melampaui ekspektasi sebesar USD1,24 miliar (Rp21,48 triliun) dan naik dari USD0,45 miliar (Rp7,79 triliun) tahun lalu.
Produksi minyak dan gas Shell turun 4 persen dibandingkan kuartal sebelumnya, terutama karena gangguan di Qatar di mana sebagian dari pabrik gas-ke-cair Pearl miliknya rusak akibat konflik di Timur Tengah yang dimulai pada akhir Februari. Perbaikan penuh mungkin memakan waktu sekitar satu tahun.
Rasio utang terhadap ekuitas Shell, termasuk biaya sewa, naik menjadi 23,2 persen dari 20,7 persen pada akhir 2025. Shell sebelumnya telah mengisyaratkan peningkatan utang karena mengelola gangguan dan volatilitas harga dan pasokan. (Reporter: Eugenia Siregar) (Wahyu Dwi Anggoro)