"Banyak orang berpikir bahwa di tengah gejolak global, posisi kita akan rentan. Tapi ternyata di sektor industri pupuk, posisi kita bukan rentan, tapi justru bisa tampil sebagai salah satu penyelamat ekosistem pangan regional. Kita justru bisa bantu negara-negara lain yang membutuhkan pupuk," ujar Rahmad.
Hal ini sejalan dengan klaim Kementerian Pertanian bahwa sejauh ini sudah ada sedikitnya empat negara yang telah menyatakan minatnya untuk mengimpor pupuk urea dari Indonesia, sebagai solusi atas gangguan distribusi global akibat dinamika geopolitik di Selat Hormuz. Empat negara tersebut meliputi Australia, India, Filipina dan Brasil.
Namun demikian, dalam menjawab permintaan pasokan dari keempat negara tersebut, Pupuk Indonesia akan tetap menjalankan ekspor secara hati-hati, dengan terlebih dulu memastikan kebutuhan petani dalam negeri telah sepenuhnya terpenuhi.
Sebagai bukti atas komitmen tersebut, Rahmad juga memastikan bahwa aktivitas ekspor hanya akan dilakukan Pupuk Indonesia berdasarkan penugasan resmi dari pemerintah, usai lebih dulu memastikan ketercukupan pasokan untuk pasar domestik. terutama saat masa tanam tiba.
"Jadi kami tidak mungkin juga melakukan (ekspor) saat musim tanam. Itu sudah kami sampaikan juga ke perwakilan dari India dan lain-lain, dan bisa dipahami bahwa kami hanya akan ekspor di luar musim tanam," ujar Rahmad.