Saat ini Pupuk Indonesia memiliki kapasitas produksi urea mencapai 9,4 juta ton per tahun, lebih tinggi dari kebutuhan domestik yang berada pada kisaran enam hingga tujuh juta ton per tahun. Kapasitas ini didukung oleh ketersediaan bahan baku utama berupa gas alam yang dijamin pemerintah, baik dari sisi volume maupun harga.
Kapasitas produksi tersebut turut menopang ketersediaan stok pupuk yang hingga 14 April 2026 mencapai sekitar 1,2 juta ton baik subsidi maupun non-subsidi, yang akan terus diperkuat dengan produksi harian yang berjalan dengan optimal.
"Saat ini (stok kami) 1,2 juta ton. Jadi 1,2 juta ton ditambah dengan produksi kita yang setiap hari itu untuk urea saja sekitar 25 ribu ton per hari. Ditambah untuk NPK kita itu kira-kira sekitar 15 ribu ton per hari. Jadi sangat cukup," ujar Rahmad.
Sementara terkait harga jual, Rahmad juga menyatakan bahwa di tengah fluktuasi harga pupuk global, pemerintah memastikan bahwa harga pupuk subsidi akan tetap stabil, dengan Harga Eceran Tertinggi (HET) pupuk subsidi yang telah diturunkan sebesar 20 persen pada Oktober 2025 lalu.
Kepastian stabilitas harga ini menjadi salah satu bagian dari instrumen yang disiapkan pemerintah untuk melindungi petani dari gejolak harga internasional, sehingga keterjangkauan pupuk tetap terjaga.