Ara mengatakan pihaknya dengan BRI dan Tapera sedang menggodok pembiayaan rusun bersubsidi secara lebih lanjut. Penggunaan pos pendanaan melalui produk lain dari bank menjadi opsi potensial.
"Salah satunya kami usulkan bagaimana nanti dengan asumsi sebagai skema KUR, likuiditas dari perbankan dan pemerintah akan memberikan subsidi selisih rumah. Sehingga keterjangkauan masyarakat itu akan bisa lebih masuk," kata Ara.
Adapun, Kementerian Perumahan dan Kawasan Permukiman memulai tahapan land clearing pembangunan rusun subsidi untuk rakyat di kawasan Meikarta pada akhir Januari ini. Proyek ini digadang-gadang solusi atas keterbatasan lahan hunian di kawasan industri dengan jumlah penduduk yang terus meningkat.
Di kawasan ini disiapkan tiga lahan seluas total 30 hektare, dengan lokasi pertama seluas 10 hektare yang akan dibangun 18 tower setinggi 32 lantai. Setiap tower direncanakan memiliki sekitar 2.300 unit, sehingga pada tahap awal akan tersedia sekitar 47.000 unit, dan secara keseluruhan ditargetkan mencapai 141.000 unit rusun subsidi.
Pembangunan rusun subsidi Meikarta akan dilakukan dalam empat tahapan, dimulai dengan land clearing, dilanjutkan pemasangan tiang pancang pada 8 Maret 2026, pembangunan struktur ke atas pada 17 Agustus 2026, hingga serah terima kunci yang ditargetkan pada 8 Agustus 2028.
(Febrina Ratna Iskana)