Bila dibandingkan dengan realisasi periode yang sama pada tahun lalu (Januari–September 2025) yang mencapai Rp502,9 triliun, total pembiayaan utang hingga September 2026 terpantau lebih rendah. Namun khusus instrumen SBN neto, pencapaian tahun ini lebih tinggi ketimbang September 2025 yang saat itu sebesar Rp471,4 triliun.
Suahasil menekankan bahwa pemerintah menerapkan prinsip kehati-hatian yang tinggi serta mempertimbangkan momentum pasar sebelum mengeksekusi penerbitan surat utang.
“Kita sangat memperhatikan kondisi pasar SBN dan juga kondisi ekonomi global. Karena menerbitkan SBN ini harus dilakukan dengan sangat hati-hati, melihat kondisi pasar, tapi juga harus oportunistik,” jelas Suahasil.
Fleksibilitas ini membuat pemerintah dapat bergerak responsif menyesuaikan ritme penerbitan dengan kondisi imbal hasil (yield) dan volatilitas di pasar keuangan.
“Kalau lagi bagus pasarnya, kita terbitkan. Lagi kurang bagus pasarnya, kita agak lakukan adjustment sedikit,” tambahnya.