AALI
9925
ABBA
290
ABDA
7000
ABMM
1380
ACES
1275
ACST
194
ACST-R
0
ADES
3400
ADHI
840
ADMF
7625
ADMG
188
ADRO
2310
AGAR
364
AGII
1390
AGRO
1325
AGRO-R
0
AGRS
163
AHAP
70
AIMS
362
AIMS-W
0
AISA
175
AISA-R
0
AKKU
50
AKPI
1100
AKRA
800
AKSI
755
ALDO
1375
ALKA
314
ALMI
288
ALTO
258
Market Watch
Last updated : 2022/01/21 Data is a realtime snapshot, delayed at least 10 minutes
IDX30
513.72
1.77%
+8.94
IHSG
6726.37
1.5%
+99.50
LQ45
959.76
1.74%
+16.42
HSI
24965.55
0.05%
+13.20
N225
27522.26
-0.9%
-250.67
NYSE
0.00
-100%
-16818.98
Kurs
HKD/IDR 1,840
USD/IDR 14,345
Emas
847,450 / gram

Survei: Peserta Kartu Prakerja 89 Persen Menganggur dan Pekerja hanya 13 Persen

ECONOMICS
Hafid Fuad
Jum'at, 17 September 2021 13:45 WIB
Secara persentase tercatat sebesar 89% penerima berstatus menganggur saat mendaftar
Survei: Peserta Kartu Prakerja 89 Persen Menganggur dan Pekerja hanya 13 Persen (FOTO:MNC Media)
Survei: Peserta Kartu Prakerja 89 Persen Menganggur dan Pekerja hanya 13 Persen (FOTO:MNC Media)

IDXChannel - Manajemen Pelaksana Program Kartu Prakerja (PMO) membagikan data Hasil Administrasi dan Survei Evaluasi I 2020 dan 2021, Jumat (18/9/2021). 

Data yang diisi oleh 7.036.726 penerima ini memperlihatkan beberapa data penting. Secara persentase tercatat sebesar 89% penerima berstatus menganggur saat mendaftar. 

Sementara hanya 11% yang bekerja saat mendaftar. Para pekerja tersebut tercatat mayoritas 65% merupakan para karyawan/buruh/pegawai/lainnya. 

Data tersebut juga menunjukkan mayoritas yang berstatus pekerja berada di sektor informal atau memiliki porsi hingga 76%. Secara pendapatan golongan pekerja menyatakan rata-rata gaji karyawan/buruh/pegawai per bulan sebesar Rp1,3 Juta. 

Tidak hanya para pekerja, tapi pendaftar juga ada yang sudah berwirausaha. Porsi para wirausaha tersebut sebesar 35%. Mereka yang sudah berwirausaha masih berada di sektor informal dengan porsi mencapai 81%. Dengan rata-rata omset wirausaha per bulan sebesar Rp1,1 juta. 

Sebelumnya Direktur Eksekutif Manajemen Pelaksana Program Kartu Prakerja Denni Puspa Purbasari menyampaikan Data Manajemen Pelaksana Program Kartu Prakerja menunjukkan 89% penerima Kartu Prakerja menganggur saat mereka mendaftar program ini. Bukan hanya menganggur karena PHK, namun juga mereka yang fresh graduates dan sedang mencari kerja termasuk juga mereka yang mutung tadi. 

"Disinilah Kartu Prakerja hadir memberi solusi tidak hanya untuk mereka yang terkena Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) akibat pandemi, tapi menjadi program pengembangan kompetensi para pencari kerja dan juga pekerja yang membutuhkan peningkatan kompetensi, termasuk pelaku usaha mikro dan kecil,” kata Denni beberapa waktu lalu. 

Dalam usianya yang baru 1,5 tahun, Program Kartu Prakerja telah memberikan dampak signifikan di tengah situasi sulit akibat pandemi. Sejak Gelombang 1 dibuka pada 11 April 2020 hingga pengumuman penerima Gelombang 20 pada 15 September 2021, program ini sudah menjangkau 10,6 juta penerima manfaat. Rinciannya yaitu 5,5 juta peserta pada 2020 serta 5,1 juta penerima Kartu Prakerja pada 2021. 

Pada 16 September 2021, kami kembali membuka pendaftaran baru, yakni Gelombang 21 dengan kuota 754.929 orang,” katanya saat memberikan kuliah umum dalam ‘Forum Pembangunan Indonesia’ Magister Ekonomi Kependudukan dan Ketenagakerjaan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia bertopik ‘Peran Program Kartu Prakerja dalam Meningkatkan Keterampilan Kerja’, Kamis lalu. 

Mengutip data Badan Pusat Statistik pada 2020, Denni memaparkan bahwa pengangguran dan kemiskinan di Indonesia naik akibat pandemi Covid-19. Pada 2016, jumlah penduduk miskin di Indonesia sebanyak 27,76 juta atau 10,70 persen dari keseluruhan jumlah penduduk. Angka itu terus menurun menjadi 24,79 juta atau menyentuh 1 digit dari keseluruhan jumlah penduduk (9,22%). Namun, akibat pandemi, jumlah penduduk miskin kembali meningkat mencapai 27,55 juta (10,19%). 

Tahun lalu, sebanyak 29,12 juta orang penduduk usia kerja terdampak pandemi Covid-19 dengan rincian 2,56 juta orang berhenti bekerja, 1,77 juta orang sementara tidak bekerja, dan 24,03 juta orang mendapatkan pengurangan jam kerja. Selain itu, ada 0,76 juta orang yang kemudian ‘mutung’ tidak lagi bekerja dan tidak juga mencari kerja atau mencoba memulai usaha, antara lain karena melihat lowongan kerja sedikit ataupun jualannya tidak laku.

(SANDY)

link copied to clipboard
COPY TO CLIPBOARD