AALI
9675
ABBA
290
ABDA
6325
ABMM
1385
ACES
1345
ACST
190
ACST-R
0
ADES
3570
ADHI
825
ADMF
7550
ADMG
193
ADRO
2220
AGAR
362
AGII
1445
AGRO
1445
AGRO-R
0
AGRS
172
AHAP
70
AIMS
398
AIMS-W
0
AISA
174
AISA-R
0
AKKU
50
AKPI
1120
AKRA
810
AKSI
690
ALDO
1350
ALKA
334
ALMI
290
ALTO
248
Market Watch
Last updated : 2022/01/18 Data is a realtime snapshot, delayed at least 10 minutes
IDX30
505.56
-0.34%
-1.74
IHSG
6614.06
-0.47%
-30.99
LQ45
944.82
-0.34%
-3.20
HSI
24112.78
-0.44%
-105.25
N225
28257.25
-0.27%
-76.27
NYSE
17219.06
-0.23%
-39.94
Kurs
HKD/IDR 1,837
USD/IDR 14,330
Emas
836,902 / gram

Tahu Tidak, RI Masih Ketergantungan Impor 95 Persen Bahan Obat Sintetis

ECONOMICS
Advenia Elisabeth/MPI
Kamis, 02 Desember 2021 15:49 WIB
Indonesia hingga sampai saat ini harus mengandalkan impor 95 persen bahan obat sintetis. Bahkan Indonesia juga masih mengimpor bahan-bahan pengisi jamu.
Tahu Tidak, RI Masih Ketergantungan Impor 95 Persen Bahan Obat Sintetis (FOTO: MNC Media)
Tahu Tidak, RI Masih Ketergantungan Impor 95 Persen Bahan Obat Sintetis (FOTO: MNC Media)

IDXChannel - Indonesia hingga sampai saat ini harus mengandalkan impor 95 persen bahan obat sintetis. Tidak hanya obat, Indonesia juga masih mengimpor bahan-bahan pengisi jamu.

"Bahan obat sintetis 95 persen kita masih impor. Ini masalahnya. Kita masih tergantung terus dari impor. Sudah berapa triliun yang sudah kita gunakan untuk membeli obat dari luar negeri. Bahkan bukan hanya obat, tapi bahan-bahan pengisi yang digunakan oleh para industri jamu, itu pun impor. Ini kan sangat menyedihkan," ujarn Akademisi dari Farmasi Universitas Gajah Mada, Prof Dr. Suwijiyo Pramono, dalam  acara Sarasehan Jamu Nusantara di Yogyakarta, Kamis (2/12/2021).

Maka menurutnya, para peneliti serta industri jamu harus saling bersinergi untuk menggali bahan-bahan lokal untuk dikembangkan menjadi bahan baku yang berkualitas baik.

"Menjaga kearifan lokal itu sangat penting untuk kebutuhan anak cucu di masa yang akan datang. Kita kaya tanaman herbal, tapi kurang dimanfaatkan," ucap Suwijiyo.

Lebih lanjut, ia menilai, latar belakang masyarakat Indonesia lebih memilih mengkonsumsi obat impor, lantaran mudah dikonsumsi. Beda halnya dengan bahan-bahan herbal lokal, harus diekstraksi terlebih dahulu sebelum dikonsumsi.

"Masyarakat kita lebih sering impor itu kenapa? karena lebih mudah. Nggak boleh sebenarnya begitu. Karena akan merugikan anak cucu. Misalnya tanaman herba timi yang sudah lama dipergunakan untuk obat anti batuk. Pada tahun 70-80an, tanaman itu menjadi andalan di seluruh apotik di kota Madya Yogyakarta. Karena daun timi itu sangat manjur sekali," kata Suwijiyo.

"Tapi seiring berjalannya waktu, masuk obat-obat impor yang lebih simpel penggunaannya. Kalau daun timi kan harus mengekstraksi, perlu diproses dulu sebelum dikonsumsi. Inilah yang membuat masyarakat kita malas dan lari ke obat impor," lanjutnya.

Untuk itu, perlu adanya pengembangan agar tanaman-tanaman herbal dapat diolah dan bisa dikonsumsi secara sederhana oleh masyarakat. Seperti obat yang langsung dikonsumsi. (RAMA)

link copied to clipboard
COPY TO CLIPBOARD