"Kami melihat adanya kebutuhan untuk menyederhanakan dan menstandarkan proses namun tetap menjaga kualitas agar layanan kepada nasabah dapat diberikan dengan lebih cepat dan konsisten. Dengan sentralisasi, pengendalian menjadi lebih kuat dan kualitas layanan semakin seragam di seluruh Indonesia," kata Leonardo.
Program transformasi tersebut telah berjalan sejak awal tahun 2025 dan dilakukan secara bertahap melalui empat tahapan, yaitu kajian, piloting, evaluasi, dan implementasi nasional. Pendekatan ini dilakukan untuk memastikan kesiapan proses, sistem, dan sumber daya manusia sebelum diterapkan secara lebih luas.
"Pada Keuangan & Akuntansi, proses transaksi dan pencatatan dipusatkan agar pelaporan lebih terstandar. Pada Underwriting Asuransi Umum, kami memperkuat standardisasi analisis risiko dan spesialisasi underwriter untuk menjaga konsistensi perlindungan," katanya.
"Sementara pada Klaim, kami mengintegrasikan proses dengan dukungan teknologi, termasuk microsite Klaim KUR yang memungkinkan perkembangan klaim dipantau secara transparan," lanjut Leonardo.
Proses sentralisasi ini juga membantu perusahaan dalam mempercepat SLA pembayaran keuangan serta meningkatkan produktivitas pegawai.
"Dalam hasil uji coba sentralisasi menunjukkan SLA pembayaran yang lebih cepat dari 8 hari menjadi 2 hari saja, serta produktivitas underwriting mencapai 3,5x akseptasi perharinya. Ini membuktikan bahwa sentralisasi menjadi langkah transformasi yang tepat saat ini," kata Leo.
Sentralisasi Keuangan & Akuntansi sebelumnya telah diuji coba di Kantor Cabang Bandung, Surabaya, dan Jakarta. Underwriting Asuransi Umum di Kantor Cabang Makassar, Surabaya, dan Bandung. Sementara Klaim KUR BRI di wilayah Jakarta.
Per September 2026, sentralisasi Keuangan & Akuntansi serta Underwriting Asuransi Umum telah memasuki tahap implementasi nasional. Sentralisasi Klaim KUR BRI ditargetkan memasuki implementasi pada kuartal IV 2026.