AALI
10025
ABBA
406
ABDA
0
ABMM
1535
ACES
1415
ACST
272
ACST-R
0
ADES
2570
ADHI
1155
ADMF
7950
ADMG
234
ADRO
1735
AGAR
350
AGII
1470
AGRO
2020
AGRO-R
0
AGRS
210
AHAP
65
AIMS
500
AIMS-W
0
AISA
232
AISA-R
0
AKKU
50
AKPI
795
AKRA
4660
AKSI
458
ALDO
720
ALKA
250
ALMI
238
ALTO
300
Market Watch
Last updated : 2021/10/22 Data is a realtime snapshot, delayed at least 10 minutes
IDX30
516.22
0.19%
+0.98
IHSG
6643.74
0.16%
+10.77
LQ45
970.79
0.27%
+2.64
HSI
26126.93
0.42%
+109.40
N225
28804.85
0.34%
+96.27
NYSE
17132.22
0.29%
+49.07
Kurs
HKD/IDR 1,814
USD/IDR 14,120
Emas
813,779 / gram

Utang Lebih Tinggi dari Aset Dihitung Rugi? Erick Thohir: Itu Salah

ECONOMICS
Suparjo Ramalan
Senin, 20 September 2021 15:06 WIB
Menteri BUMN, Erick Thohir, meluruskan beberapa opini publik yang menyebut utang perusahaan pelat merah yang lebih tinggi dibandingkan aset.
Utang Lebih Tinggi dari Aset Dihitung Rugi? Erick Thohir: Itu Salah. (Foto: MNC Media)
Utang Lebih Tinggi dari Aset Dihitung Rugi? Erick Thohir: Itu Salah. (Foto: MNC Media)

IDXChannel - Menteri BUMN, Erick Thohir, meluruskan beberapa opini publik yang menyebut utang perusahaan pelat merah yang lebih tinggi dibandingkan aset yang dimiliki adalah sebuah kerugian. Menurut dia, asumsi tersebut keliru besar.

"Inikan kadang-kadang diributkan, utang kita (BUMN) tidak seimbang dengan aset, itu salah," ujar Erick, Senin (20/9/2021). 

Aset BUMN dipandang luar biasa besar. Bahkan, tingkat rasio dengan utang pun masih tercatat jauh. Erick menyebut, saat ini sejumlah BUMN mulai membukukan kenaikan profit.

"Apalagi ke depan ketika tadi yang saya sampaikan transformasi daripada perusahaan BUMN ini juga tadi, profitnya mulai terlihat, ini yang ingin kita lakukan," tutur dia.

Kementerian BUMN mencatat total utang pendanaan BUMN sejak 2020 mencapai Rp2.000 triliun. Sumbernya berasal dari surat utang dan instrumen utang lainnya.

Sementara ekuitas BUMN tercatat Rp2.500 triliun. Dengan begitu, Debt to Equity Ratio (DER) atau rasio utang perusahaan berada di posisi 0,7 persen atau di bawah 1 persen. Struktur utang perusahaan bisa dinyatakan sehat jika posisinya berada di bawah 1,5 persen. 

Sebelumnya, Staf Khusus Menteri BUMN, Arya Sinulingga menyebut banyak pemberitaan mengenai utang BUMN. Namun, narasi pemberitaan tersebut menggabungkan utang pendanaan dan non pendanaan BUMN. Padahal, komposisi utang yang dimiliki perusahaan menyangkut pinjaman dan tabungan masyarakat di Bank Himbara.

"Selama ini orang menggabungkan utang pendanaan yang ada bunga dan sebagainya dan utang non pendanaan. Utang pendanaan kita itu sekitar Rp2.000 triliun, itu apakah surat utang yang punya bunga dan sebagainya. Kemudian kita punya utang non pendanaan, ini yang kadang-kadang digabungkan, misalnya orang menyimpan uang di bank, nah ini otomatis menjadi utang perbankan," tutur dia.

Tren utang BUMN memang tercatat meningkat dalam beberapa tahun terakhir. Berdasarkan statistik utang Luar Negeri Bank Indonesia (BI), pinjaman asing BUMN per Januari 2021 mencapai 57,47 miliar dolar AS atau setara Rp809 triliun mengacu kurs Rp14.400 per dolar AS. Nilai itu setara dengan 28 persen dari total ULN swasta.

Sedangkan, catatan pemegang saham total utang perusahaan negara hingga kuartal III-2020 mencapai Rp1.682 triliun, naik Rp289 triliun dibandingkan posisi akhir 2019. Tingginya utang BUMN karena dampak penugasan pemerintah untuk pembangunan dan pengembangan sejumlah proyek strategis nasional (PSN). (TYO)

link copied to clipboard
COPY TO CLIPBOARD