"Harga BBM yang kita jaga ini juga by design untuk menjaga daya beli masyarakat. Coba kalau kita lepas, pasti inflasi meningkat, daya beli turun, dan pertumbuhan ekonomi turun," imbuhnya.
Di balik itu, Juda menitikberatkan ada diskresi fiskal seperti pengalihan anggaran belanja. Asumsi dasar makro yang nyaris terpengaruh karena inflasi harga minyak tak lepas dari beberapa skenario untuk menekan defisit fiskal dalam batas aman di bawah 3 persen.
"Kami perlu melakukan refocusing terhadap belanja-belanja yang lain, dan itu sudah kami lakukan, sehingga dengan asumsi harga minyak di tahun ini katakanlah USD100 per barel dan dengan upaya refocusing, upaya pengendalian belanja, upaya mendorong pendapatan, maka defisit fiskal kita bisa kita jaga di 2,9 persen di tahun ini," kata dia.
(Febrina Ratna Iskana)