AALI
7950
ABBA
600
ABDA
0
ABMM
1240
ACES
1320
ACST
248
ACST-R
0
ADES
2410
ADHI
685
ADMF
7700
ADMG
216
ADRO
1335
AGAR
398
AGII
1790
AGRO
2500
AGRO-R
0
AGRS
264
AHAP
59
AIMS
420
AIMS-W
0
AISA
206
AISA-R
0
AKKU
50
AKPI
650
AKRA
3600
AKSI
422
ALDO
635
ALKA
226
ALMI
270
ALTO
328
Market Watch
Last updated : 2021/07/30 Data is a realtime snapshot, delayed at least 10 minutes
IDX30
438.19
-1.28%
-5.68
IHSG
6070.04
-0.83%
-50.69
LQ45
823.04
-1.17%
-9.71
HSI
25961.03
-1.35%
-354.29
N225
27283.59
-1.8%
-498.83
NYSE
16697.14
0.75%
+123.58
Kurs
HKD/IDR 1,858
USD/IDR 14,460
Emas
850,320 / gram

Waspada Taper Tantrum, Arus Modal Asing Bisa Kabur Lebih Deras

ECONOMICS
Rina Anggraeni/Sindonews
Senin, 14 Juni 2021 19:21 WIB
Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani mengatakan jika terjadi tapering maka arus modal keluar dari negara berkembang bisa mengalir lebih deras.
Menteri Keuangan Sri Mulyani mengatakan jika terjadi tapering maka arus modal keluar dari negara berkembang bisa mengalir lebih deras. (Foto: MNC Media)

IDXChannel - Pemerintah mewaspadai  gejolak taper tantrum seperti yang pernah terjadi pada 2013. Seperti diketahui, tapering yang dilakukan beberapa bank sentral negara maju memiliki potensi rambatan terhadap perekonomian khususnya dari sisi sistem keuangan.

Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani mengatakan jika terjadi tapering maka arus modal keluar (capital outflow) dari negara berkembang (emerging country) pada masa pandemi covid-19 lebih lama dibandingkan periode krisis keuangan global di 2008 lalu. Tak hanya itu, aliran modal keluar ini juga lebih deras.

"Periode global financial crisis (krisis keuangan), aliran modal asing kembali ke negara emerging pada bulan keenam. Sementara pada covid-19 ini capital flow belum kembali meskipun sudah memasuki bulan ke-15," ujar Sri Mulyani dalam video virtual, Senin (14/6/2021).

Sri Mulyani mengatakan, aliran modal asing yang keluar saat krisis ekonomi pada 2008 sebesar Rp69,9 triliun. Pada krisis 2013 lalu, asing hanya menarik investasinya sebesar Rp36 triliun. Sementara pada periode Januari-Maret 2020 saja, arus modal keluar mencapai Rp145 triliun akibat pandemi covid-19.

" Potensi penurunan daya dukung investor global untuk pembiayaan defisit fiskal dari sisi pasar SBN, " bebernya.

Dia menambahkan terdapat sektor industri yang terus-terusan terdampak Pandemi Covid- 19. Jika penyebaran virus itu cepat, dipastikannya sektor industri yang dia masukkan ke dalam kelompok slow starter pasti akan mengalami penurunan kinerja.

"Aada beberapa sektor yang sangat berkaitan erat dengan Covid. Dimana saat Covidnya nya naik, sektornya langsung drop," tandasnya. (TIA)

link copied to clipboard
COPY TO CLIPBOARD