Di sisi lain, WIKA Beton membukukan pendapatan usaha Rp1,48 triliun pada kuartal II-2026. Penjualan produk manufaktur beton masih menjadi penopang utama pendapatan perusahaan.
Beton putar memberikan kontribusi sebesar 47,91 persen, sedangkan beton non-putar menyumbang 34,44 persen. Sementara itu, jasa konstruksi dan pelayanan lainnya berkontribusi sebesar 17,64 persen.
Dari sisi pelanggan, segmen swasta mendominasi pendapatan WIKA Beton dengan kontribusi mencapai 68,72 persen. Secara geografis, Pulau Jawa masih menjadi pasar utama WIKA Beton dengan kontribusi 62 persen terhadap pendapatan. Berikutnya adalah Sumatera sebesar 21,61 persen, Kalimantan 9,36 persen, serta Sulawesi, Maluku, dan Papua sebesar 7,03 persen.
WIKA Beton menyatakan capaian tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat fundamental bisnis dan menjaga keberlanjutan pertumbuhan perusahaan. WIKA Beton juga terus mendorong ekspansi pasar internasional, salah satunya melalui keterlibatan dalam proyek Metro Manila Subway di Filipina.
Perusahaan menilai diversifikasi pasar, inovasi, dan peningkatan kapabilitas dapat menjadi katalis pemulihan kinerja sekaligus memperkuat daya saing WIKA Beton di pasar domestik maupun internasional. (Febrina Ratna Iskana)