AALI
10025
ABBA
406
ABDA
0
ABMM
1535
ACES
1415
ACST
272
ACST-R
0
ADES
2570
ADHI
1155
ADMF
7950
ADMG
234
ADRO
1735
AGAR
350
AGII
1470
AGRO
2020
AGRO-R
0
AGRS
210
AHAP
65
AIMS
500
AIMS-W
0
AISA
232
AISA-R
0
AKKU
50
AKPI
795
AKRA
4660
AKSI
458
ALDO
720
ALKA
250
ALMI
238
ALTO
300
Market Watch
Last updated : 2021/10/22 Data is a realtime snapshot, delayed at least 10 minutes
IDX30
516.22
0.19%
+0.98
IHSG
6643.74
0.16%
+10.77
LQ45
970.79
0.27%
+2.64
HSI
26126.93
0.42%
+109.40
N225
28804.85
0.34%
+96.27
NYSE
0.00
-100%
-17099.21
Kurs
HKD/IDR 1,814
USD/IDR 14,120
Emas
814,092 / gram

Yakinkan Jokowi Soal Utang BUMN, Erick Thohir: Direstrukturisasi untuk Hasilkan Profit

ECONOMICS
Suparjo Ramalan
Selasa, 21 September 2021 21:12 WIB
Erick Thohir memastikan utang perusahaan pelat merah di sejumlah lembaga keuangan dan perbankan dioperasionalkan secara produktif.
Yakinkan Jokowi Soal Utang BUMN, Erick Thohir: Direstrukturisasi untuk Hasilkan Profit (Dok.MNC Media)

IDXChannel - Menteri BUMN Erick Thohir memastikan utang perusahaan pelat merah di sejumlah lembaga keuangan dan perbankan dioperasionalkan secara produktif. Hal itu usai pemegang saham dan kreditur menyepakati adanya restrukturisasi utang sebagian BUMN.

Sikap optimisme Erick Thohir itu disampaikan langsung kepada Presiden Joko Widodo (Jokowi) dan sejumlah petinggi negara lainnya saat meninjau langsung peresmian pabrik Hot Strip Mill 2 (HSM 2) PT Krakatau Steel (Persero) Tbk, Cilegon, Banten

Dia menyampaikan, restrukturisasi utang BUMN tidak sekadar memanjangkan cicilan bunga bank, namun ditransformasikan melalui refocusing ke program atau proyek yang mendatangkan profit bagi perusahaan. 

"Kita ingin menyampaikan restrukturisasi yang ada di BUMN, tentu kita bisa membuktikan bahwa utang BUMN yang direstrukturisasi ini menjadi produktif. Jadi ini tidak hanya sekadar restrukturisasi memanjangkan daripada cicilan bank bunga, tetapi ini tetap ditransformasi," ujar Erick, Selasa (21/9/2021). 

Dua contoh perseroan negara, kata dia, yang berhasil direstrukturisasi utangnya adalah Holding Perkebunan Nusantara atau PTPN III (Persero) dan PT Krakatau Steel (Persero) Tbk, atau KRAS. 

Kementerian BUMN sebagai pemegang saham memang sudah memfasilitasi restrukturisasi utang PTPN III senilai Rp41 triliun dengan 50 kreditur baik dalam dan luar. 

Dimana, skema yang dilalui berupa kesepakatan intercreditor atau Intercreditor Agreement (ICA) dengan seluruh anggota kreditur sindikasi USD serta SMBC Singapore sebagai agen.

Utang jumbo Rp 41 triliun itu diketahui berasal dari perbankan dan sindikasi pinjaman lain senilai 390 juta dolar AS yang berasal dari kreditur luar negeri sebanyak 18 bank, dengan rincian tiga bank onshore dan 15 bank offshore. 

Seperti janji pemegang saham, hasil dari upaya perbaikan perkreditan itu akhirnya membuahkan hasil. Tercatat, hingga Agustus 2021 PTPN III mencatatkan untung sebesar Rp 2,3 triliun dengan tingkat penjualan meningkat 37 persen. Padahal, tahun ini diproyeksikan perseroan mengalami rugi sebesar Rp 1,4 triliun. 

"Alhamdulillah, PTPN penjualannya meningkat 37 persen, yang tadinya tahun ini target rugi itu Rp 1,4 triliun, Agustus kemarin Bapak, saya cek dan saya pastikan untungnya sudah Rp2,3 triliun," tuturnya. 

Sikap percaya diri Erick Thohir juga dibarengi oleh refocusing anggaran PTPN III untuk beberapa program yang dinilai unggul, misalnya, budidaya kelapa sawit hingga meningkatkan produksi gula konsumsi. 

Untuk KRAS, emiten pelat merah ini tengah memasuki tahap ketiga dari restrukturisasi. Sebelumnya, perusahaan sudah melewati proses tahap satu dan dua. 

Utang KRAS yang harus direstrukturisasi mencapai 2,2 miliar dolar AS atau setara Rp 31 triliun (Kurs: Rp 4.400 per dolar AS). Sejak Desember 2019 lalu, perkiraan utang bisa dilunasi 10 tahun mendatang. Dalam proses ini, 10 Bank memberikan restrukturisasi kreditnya. 

Erick menyebut, terdapat perbaikan kinerja keuangan KRAS usai restrukturisasi utang tahap satu dan dua. Setidaknya, hingga kuartal II-2021 perusahaan membukukan untung sebesar Rp 800 miliar. Padahal, perusahaan terus mencatat kerugian selama 8 tahun terakhir. 

"Jadi, tentu para bank yang tadinya melakukan restrukturisasi itu bahwa confidence, bahwa restrukturisasi ini benar berjalan, terjadi efisiensi perubahan manajemen dan refocusing daripada kekuatannya," ungkap dia.  

(IND) 

Rekomendasi Berita
Berita Terkait
link copied to clipboard
COPY TO CLIPBOARD