sosmed sosmed sosmed sosmed
get app
Advertisement

Masker Tak Cukup untuk Hadapi Kabut Asap Karhutla, Ini Anjuran Dokter

Ecotainment editor Niko Prayoga
24/08/2026 10:04 WIB
Langkah konkrit paling krusial yang dibutuhkan anak-anak saat ini adalah pembatasan paparan fisik secara langsung dari sumber asap itu sendiri.
Masker Tak Cukup untuk Hadapi Kabut Asap Karhutla, Ini Anjuran Dokter. (Foto: Instagram/ardisantoso)
Masker Tak Cukup untuk Hadapi Kabut Asap Karhutla, Ini Anjuran Dokter. (Foto: Instagram/ardisantoso)

IDXChannel—Ketika kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) mulai tiba di permukiman, mata mungkin terbiasa melihat langit yang memutih. Namun, bagi kesehatan anak-anak, fenomena ini lebih dari sekadar krisis jarak pandang. 

Lebih dari itu, kabut asap adalah ancaman langsung terhadap sistem pernapasan mereka yang masih sangat sensitif dan rentan. Di tengah kepungan polusi dan asap tebal, masyarakat kerap kali mencari solusi cepat melalui konsumsi suplemen, susu, hingga tren detox paru. 

Padahal, langkah konkrit paling krusial yang dibutuhkan anak-anak saat ini adalah pembatasan paparan fisik secara langsung dari sumber asap itu sendiri.

Hal tersebut disampaikan oleh dokter spesialis anak sekaligus influencer kesehatan, dr. Ardi Santoso melalui sebuah unggahan edukatif di akun Instagram pribadinya. Ia mengingatkan para orang tua dan masyarakat luas untuk segera mengambil tindakan nyata sebelum dampak buruk menghinggapi paru-paru buah hati.

“Jangan biarkan anak terus menghirup asap. Saat asap menyelimuti tempat tinggal, yang paling penting bukan vitamin, susu, detox paru. Yang paling penting kurangi asap yang masuk ke paru anak - anak termasuk kelompok paling rentan,” ujar dr. Ardi, dikutip Minggu (23/8/2026).

Menghadapi kualitas udara yang buruk, memurnikan seluruh area rumah kerap kali sulit direalisasikan. Oleh karena itu, ia merekomendasikan strategi yang dapat diterapkan oleh setiap keluarga, yakni menciptakan ruang udara bersih atau Clean Air Room.

Konsep ini tidak menuntut pembenahan seluruh bagian rumah. Cukup fokus pada satu area khusus tempat anak paling banyak menghabiskan waktunya sehari-hari, seperti kamar tidur utama atau ruang bermain.

“Buat Clean Air Room di rumah. Tak harus seluruh rumah, pilih satu kamar tempat anak paling banyak berada atau tidur, tutup pintu dan jendela, HEPA air purifier sesuai luas ruangan, AC mode recirculate, bebaskan rumah dari rokok/vape dan sumber asap, jangan membakar sampah, kurangi masak berasap saat polusi berat,” jelasnya.

Dokter Ardi menekankan bahwa esensi dari strategi ini sangat sederhana namun berdampak besar bagi pertahanan tubuh anak. “Targetnya sederhana, satu tempat di rumah di mana anak bisa bernapas dengan udara lebih bersih,” tambah dr. Ardi.

Perlindungan anak tidak boleh berhenti di ambang pintu rumah. Menurutnya, sekolah sebagai tempat anak belajar dan berinteraksi juga memiliki tanggung jawab besar dalam memitigasi risiko kabut asap.

Khususnya institusi pendidikan yang berada di wilayah terdampak karhutla. Ia menilai, sekolah idealnya memiliki komitmen serupa untuk menghadirkan fasilitas ruang bersih agar proses belajar tetap aman.

“Satu sekolah satu Clean Air Room, sekolah di wilayah terdampak sebaiknya punya minimal satu ruang dengan HEPA air purifier sesuai ukuran ruangan, monitor PM2.5, pintu & jendela tertutup, AC mode recirculate bila tersedia, filter purifier cadangan,” paparnya.

Selain pembenahan fasilitas dalam ruang, penyesuaian kurikulum dan aktivitas fisik murid di luar kelas wajib dilakukan secepatnya ketika indikator kualitas udara menunjukkan level berbahaya. Seperti tidak upacara dan tidak melakukan aktivitas pembelajaran olahraga di luar ruangan. “Saat kualitas udara buruk, tidak upacara, tidak olahraga outdoor, tidak bermain lama di luar,” tegas dr. Ardi.

Lebih lanjut, ia menuturkan salah satu kekeliruan umum di tengah masyarakat adalah menganggap pembagian masker kain atau masker biasa sudah cukup untuk melindungi anak-anak dari ancaman asap kebakaran. Faktanya, filter standar maupun kain basah tidak dirancang untuk menahan partikel halus mikro seperti PM2.5.

World Health Organization (WHO) memang merekomendasikan penggunaan respirator berfiltrasi tinggi (seperti standar N95) saat seseorang terpaksa beraktivitas di luar ruangan. Namun, penerapannya pada balita dan anak kecil memiliki tantangan teknis tersendiri.

“Cukup Bagi-Bagi Masker? Tidak. Masker hanya salah satu lapisan perlindungan. WHO, bila harus keluar, gunakan respirator filtrasi tinggi (mis. N95) yang ukurannya pas & menempel rapat. Pada anak kecil, ukuran sering tidak pas perlindungannya bisa jauh berkurang. Masker kain, bandana, kain basah tidak dapat diandalkan menahan partikel asap. Udara bersih tetap lebih penting daripada sekadar memakai masker,” bebernya.

Berdasarkan panduan Centers for Disease Control and Prevention (CDC), respirator filtrasi tinggi umumnya dirancang berdasarkan anatomi orang dewasa. Anak berusia di atas 2 tahun diperbolehkan memakai respirator jika ukurannya pas secara presisi. Namun, jangan sekali-kali merasa aman keluar rumah hanya karena anak sudah dipasangkan masker.

“Bagaimana dengan bayi & balita? Pada anak sangat kecil, respirator sering tidak punya ukuran & seal yang baik. CDC: anak ≥2 tahun boleh respirator bila benar-benar cocok tapi respirator NIOSH umumnya dirancang untuk dewasa. Jangan berpikir sudah pakai masker, berarti boleh lama di luar. Perhitungan terbaik: jauhkan anak dari asap,” lanjut dr. Ardi.

Melihat kompleksitas masalah perlindungan pernapasan anak ini, dr. Ardi berharap agar donasi yang diberikan tidak hanya sekedar masker, tetapi juga alat pendukung pembuatan ruang udara bersih secara kolektif maupun individual.

“Apa yang Paling Bermanfaat Didonasikan? HEPA Air Purifier untuk rumah rentan, sekolah, PAUD & posko anak, filter HEPA Cadangan agar purifier terus bekerja optimal, monitor PM2.5 supaya keputusan berdasar data, bukan tebal-tipis asap, respirator filtrasi tinggi untuk anak yang memang harus keluar. Bukan sekadar donasi masker kita perlu mendonasikan udara yang lebih bersih,” pungkasnya.


(Nadya Kurnia)

Halaman : 1 2 3 4
Advertisement
Advertisement