“Cukup Bagi-Bagi Masker? Tidak. Masker hanya salah satu lapisan perlindungan. WHO, bila harus keluar, gunakan respirator filtrasi tinggi (mis. N95) yang ukurannya pas & menempel rapat. Pada anak kecil, ukuran sering tidak pas perlindungannya bisa jauh berkurang. Masker kain, bandana, kain basah tidak dapat diandalkan menahan partikel asap. Udara bersih tetap lebih penting daripada sekadar memakai masker,” bebernya.
Berdasarkan panduan Centers for Disease Control and Prevention (CDC), respirator filtrasi tinggi umumnya dirancang berdasarkan anatomi orang dewasa. Anak berusia di atas 2 tahun diperbolehkan memakai respirator jika ukurannya pas secara presisi. Namun, jangan sekali-kali merasa aman keluar rumah hanya karena anak sudah dipasangkan masker.
“Bagaimana dengan bayi & balita? Pada anak sangat kecil, respirator sering tidak punya ukuran & seal yang baik. CDC: anak ≥2 tahun boleh respirator bila benar-benar cocok tapi respirator NIOSH umumnya dirancang untuk dewasa. Jangan berpikir sudah pakai masker, berarti boleh lama di luar. Perhitungan terbaik: jauhkan anak dari asap,” lanjut dr. Ardi.
Melihat kompleksitas masalah perlindungan pernapasan anak ini, dr. Ardi berharap agar donasi yang diberikan tidak hanya sekedar masker, tetapi juga alat pendukung pembuatan ruang udara bersih secara kolektif maupun individual.
“Apa yang Paling Bermanfaat Didonasikan? HEPA Air Purifier untuk rumah rentan, sekolah, PAUD & posko anak, filter HEPA Cadangan agar purifier terus bekerja optimal, monitor PM2.5 supaya keputusan berdasar data, bukan tebal-tipis asap, respirator filtrasi tinggi untuk anak yang memang harus keluar. Bukan sekadar donasi masker kita perlu mendonasikan udara yang lebih bersih,” pungkasnya.
(Nadya Kurnia)