Widiyanti juga mengungkapkan bahwa Kemenpar juga tengah menyiasati pasar wisatawan premium yang tidak terkena dampak peningkatan biaya perjalanan akibat kenaikan harga avtur atau bahan bakar pesawat.
“Kita harus siasati bagaimana mengisi kekosongan kunjungan wisman Middle East yang ditutup. Tapi juga kita mulai menyusun strategi untuk wisatawan premium yang tidak terdampak oleh peningkatan biaya,” ungkap Widiyanti.
Berbagai langkah di atas dilakukan sebagai bentuk mempertahankan devisa pariwisata Indonesia. Apalagi, wisata Indonesia sangat kaya dan banyak diminati wisatawan mancanegara.
Terlebih, tren wisata saat ini bukan hanya sekadar tempat, tetapi juga bagaimana para wisatawan melihat komunitas masyarakat di sekitar lokasi wisata.
“Indonesia ini sangat kaya dan indah sekali dan banyak yang menanti karena sekarang mereka ingin experience, bukan hanya melihat di situs atau pantai dan gunung, tapi juga bagaimana bisa bertemu dengan orang-orang komunitas di Indonesia yang sangat terkenal, masyarakatnya sangat ramah,” jelasnya.
(Nadya Kurnia)