AALI
9300
ABBA
278
ABDA
0
ABMM
2470
ACES
690
ACST
161
ACST-R
0
ADES
6225
ADHI
775
ADMF
8200
ADMG
175
ADRO
3130
AGAR
312
AGII
2310
AGRO
855
AGRO-R
0
AGRS
119
AHAP
107
AIMS
248
AIMS-W
0
AISA
146
AISA-R
0
AKKU
50
AKPI
1620
AKRA
1200
AKSI
274
ALDO
770
ALKA
300
ALMI
290
ALTO
194
Market Watch
Last updated : 2022/08/05 Data is a realtime snapshot, delayed at least 10 minutes
IDX30
536.59
0.44%
+2.37
IHSG
7084.66
0.39%
+27.31
LQ45
1007.80
0.4%
+4.03
HSI
20201.94
0.14%
+27.90
N225
28175.87
0.87%
+243.67
NYSE
0.00
-100%
-15267.16
Kurs
HKD/IDR 545
USD/IDR 14,925
Emas
858,734 / gram

Yakinkan Turis Afsel, Pariwisata RI Terapkan Protokol Kesehatan CHSE

IDXTAINMENT
Fahmi Abidin
Rabu, 29 Juli 2020 10:30 WIB
Kemenparekraf berupaya meyakinkan para pelaku industri pariwisata di Afrika Selatan terkait penerapan protokol kesehatan berbasis CHSE.
Yakinkan Turis Afsel, Pariwisata RI Terapkan Protokol Kesehatan CHSE. (Foto: Ist)
Yakinkan Turis Afsel, Pariwisata RI Terapkan Protokol Kesehatan CHSE. (Foto: Ist)

IDXChannel - Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif berupaya meyakinkan para pelaku industri pariwisata di Afrika Selatan terkait penerapan protokol kesehatan berbasis CHSE (Cleanliness, Health, and Environmental Sustainability) di berbagai destinasi pariwisata Indonesia.

Dalam webinar yang digelar pada Selasa (28/7/2020), Plt Direktur Pemasaran Regional III (Eropa, Timur Tengah, Amerika, dan Afrika) Kemenparekraf/Baparekraf, Raden Sigit Witjaksono mengatakan, sejak 2015 pertumbuhan jumlah wisatawan Afrika Selatan yang datang berkunjung ke Indonesia mengalami pertumbuhan yang sangat signifikan.

“Dari 22.482 wisatawan di 2016 menjadi 47.657 wisatawan pada 2019. Hal ini membuktikan bahwa Afrika Selatan dan negara-negara Afrika lainnya telah mulai memperhitungkan Indonesia sebagai salah satu destinasi wisata favorit,” jelas Sigit, seperti dilansir laman resmi Kemenparekraf, pada Rabu (29/7/2020).

Sejatinya, Kemenparekraf berupaya meyakinkan khalayak internasional untuk berkunjung ke Indonesia dengan menerapkan protokol kesehatan berbasis CHSE. “Kami telah mengimplementasikan protokol CHSE. Seperti memberikan pelatihan CHSE terhadap pelaku wisata, simulasi penerapan protokol CHSE, kampanye protokol CHSE ke masyarakat dan pelaku pariwisata, dan juga menerapkan protokol CHSE di destinasi di daerah yang telah melewati masa PSBB,” imbuhnya.

Pernyataan tersebut diapresiasi oleh Chief Executive Officer South African Tourism, Sisa Nthsona yang mengatakan bahwa penerapan protokol CHSE ini ternyata juga dipelajari dan diimplementasikan di berbagai destinasi wisata yang ada di Afrika Selatan.

“Pariwisata merupakan salah satu sektor yang tidak hanya menyumbang pendapatan di negara kami, tapi juga menyerap banyak tenaga kerja. Kami belajar dari Indonesia dan saat ini Afrika Selatan kini juga tengah mencoba menerapkan protokol kesehatan di destinasi wisata,” ujar Sisa.

Sisa juga menyarankan harus ada ketetapan protokol kesehatan secara global. Sehingga, tidak ada perbedaan standar protokol kesehatan di berbagai negara di dunia, termasuk di Afrika Selatan dan Indonesia. “Jadi jangan sampai ketika kita bepergian ke suatu negara, ternyata negara itu punya standar protokol kesehatan yang berbeda dengan negara asal,” pungkasnya. (*)

link copied to clipboard
COPY TO CLIPBOARD