AALI
9725
ABBA
190
ABDA
0
ABMM
2390
ACES
800
ACST
170
ACST-R
0
ADES
7700
ADHI
805
ADMF
8100
ADMG
176
ADRO
2960
AGAR
324
AGII
2100
AGRO
770
AGRO-R
0
AGRS
122
AHAP
56
AIMS
250
AIMS-W
0
AISA
151
AISA-R
0
AKKU
50
AKPI
1535
AKRA
1070
AKSI
290
ALDO
860
ALKA
294
ALMI
292
ALTO
214
Market Watch
Last updated : 2022/06/27 Data is a realtime snapshot, delayed at least 10 minutes
IDX30
539.46
-0.84%
-4.57
IHSG
7016.06
-0.38%
-26.88
LQ45
1010.74
-0.81%
-8.25
HSI
22229.52
2.35%
+510.46
N225
26871.27
1.43%
+379.30
NYSE
14811.55
2.84%
+409.43
Kurs
HKD/IDR 1,884
USD/IDR 14,800
Emas
873,287 / gram

Cerita Tukang Becak Naik Haji, Sehari Nabung Rp30 Ribu Selama 30 Tahun

INSPIRATOR
Dani Adil
Rabu, 15 Juni 2022 10:32 WIB
Meski usia tidak muda lagi, Eme dan Icih akan fokus ibadah dan pasrah kepada Allah SWT.
Cerita Tukang Becak Naik Haji, Sehari Nabung Rp30 Ribu Selama 30 Tahun (FOTO:MNC Media)
Cerita Tukang Becak Naik Haji, Sehari Nabung Rp30 Ribu Selama 30 Tahun (FOTO:MNC Media)

IDXChannel -  Rasa bahagia menyelimuti Eme, yang merupakan pengayuh becak naik haji pada tahun ini. Betapa tidak, doa dan hasil kerja kerasnya selama 30 tahun akhirnya terkabul, Eme bisa berangkat naik haji. 

Eme tidak sendirian, dia mengajak istrinya naik haji. Eme Karna Ardali merupakan warga Blok Jatiraga, Desa/Kecamatan Kadipaten, Kabupaten Majalengka, Jawa Barat adalah contoh betapa keinginannya untuk berhaji, tidak bisa dihentikan oleh kondisi ekonomi dan usia. 

Saat ditemui Media Center Haji (MCH) 2022, Eme (65 tahun) bercerita mengenai perjuangan selama 30 tahun, mulai dari menabung hingga berdoa agar bisa naik haji. Keinginan Eme akhirnya terkabul dan bisa berangkat haji pada tahun ini. Eme dan istri menjadi tamu Allah SWT. Sementara, Icih sang istri tidak kuasa menahan air matanya yang menetes di kedua pipinya.

"Saya lega dan enak, enak sekali saya bahagia sekali bisa hajian di sini," kata Eme mengawali ceritanya di Madinah, Rabu (15/6/2022).

Penghasilan Eme yang berprofesi sebagai pengayuh becak ini tidaklah besar, namun dengan kegigihan serta doanya akhirnya mampu mengumpulkan uang sedikit demi sedikit. Penghasilan Eme rata-rata sehari Rp50.000, kemudian Eme menyisihkan Rp30.000 untuk ditabung dan sisanya Rp20.000 untuk kebutuhan makan.

"Tetapi karena niat ingin berhaji, uang ditabung. Sangat ingin berhaji karena itu adalah cita-cita semua umat Islam," ujar Eme.

Jerih payah hingga doanya selama 30 tahun akhirnya terbayar ketika Eme dan istri tiba di Madinah. Eme akan melakukan rangkaian ibadah selama di Madinah dan nantinya akan menuju ke Makkah untuk melaksanakan ibadah puncak haji.

"Menabung sudah 30 tahun tapi baru daftar 2012 dan baru dipanggil 10 tahun kemudian, melunasi biaya haji 2020," katanya.

Rasa syukur terus dipanjatkan kedua pasangan ini. Eme dan Icih merupakan jamaah haji dari embarkasi Jakarta-Bekasi (JKS 11). Selama menjadi pengayuh becak, Eme harus menempuh jarak 5 km dari rumahnya di Heuket ke depan kantor Pos Kadipaten. Begitu juga dari rumah ke lokasi manasik haji, keduanya naik becak sejauh 5 km.

Meski usia tidak muda lagi, Eme dan Icih akan fokus ibadah dan pasrah kepada Allah SWT. Tiba di Tanah Suci merupakan panggilan Allah SWT. "Sekarang fokus ke haji karena semuanya karena niat," ujarnya.

Bahkan sebelum keberangkatan ke Tanah Suci, Eme dan Icih mendapatkan bantuan dari Bupati Majalengka berupa uang, perlengkapan hingga baju untuk naik haji. Dukungan mengalir juga datang dari rekan-rekannya di embarkasi yang sama, 

"Bahkan terkadang banyak yang ngasih makanan. Alhamdulilah dapat dukungan," katanya.

Sementara saat ditanya setelah pulang haji, Eme mengaku tetap akan kembali menekuni pekerjaannya sebagai pengayuh becak. "Rencananya akan dikasih becak baru oleh bupati," ungkapnya.

Eme dan Icih dititipkan pesan oleh anaknya agar menjaga kesehatan selama di Tanah Suci. "Saya berdoa minta anak soleh, kasihan orangtua. itulah yang terus saya minta. Saya minta bapak sehat, saya sehat," harap Icih.

(SAN)

link copied to clipboard
COPY TO CLIPBOARD