AALI
9300
ABBA
290
ABDA
0
ABMM
2460
ACES
745
ACST
184
ACST-R
0
ADES
6200
ADHI
800
ADMF
8175
ADMG
176
ADRO
3250
AGAR
298
AGII
2250
AGRO
770
AGRO-R
0
AGRS
111
AHAP
100
AIMS
250
AIMS-W
0
AISA
158
AISA-R
0
AKKU
50
AKPI
1555
AKRA
1185
AKSI
280
ALDO
730
ALKA
292
ALMI
308
ALTO
192
Market Watch
Last updated : 2022/08/19 Data is a realtime snapshot, delayed at least 10 minutes
IDX30
544.69
-0.42%
-2.31
IHSG
7172.43
-0.2%
-14.12
LQ45
1022.99
-0.33%
-3.35
HSI
19773.03
0.05%
+9.12
N225
28930.33
-0.04%
-11.81
NYSE
0.00
-100%
-15734.11
Kurs
HKD/IDR 180
USD/IDR 14,820
Emas
835,878 / gram

Kisah Sukses Sudhamek AWS, Bos Garudafood yang Dulu Kerap Dibully

INSPIRATOR
Tim IDXChannel
Kamis, 28 Juli 2022 16:36 WIB
Berikut lika-liku perjalanan bisnis Sudhamek AWS dalam membesarkan Garudafood yang jadi perusahaan kelas dunia.
Kisah Sukses Sudhamek AWS, Bos Garudafood  yang Dulu Kerap Dibully (Dok.MNC)
Kisah Sukses Sudhamek AWS, Bos Garudafood yang Dulu Kerap Dibully (Dok.MNC)

IDXChannel - Perusahaan makanan ringan Garudafood (PT Garudafood Putra Putri Jaya Tbk)lahir dari sosok bernama Darmo Putro yakni ayah dari Sudhamek Agoeng Waspodo Soenjoto (Sudhamek AWS), yang kini menjabat sebagai Chairman Garuda Food Group.

Sudhamek AWS bercerita tentang pengalaman mengemban bisnis limpahan ayahnya hingga kini telah berhasil meraih keuntungan Rp 456 miliar di tahun 2021. 

Garuda Food sendiri merupakan bisnis usaha yang memproduksi makanan dan minuman. Perusahaan ini berdiri sejak tahun 1994. Beberapa merek Garuda Food yang tak asing di pasaran seperti Kacang Garuda, Gery, Chocolatos, Clevo, Leo, Prochiz, dan masih banyak lagi. 

Melalui kanal Youtube Yudi Candra, Sudhamek AWS bercerita mengenai kisah hidupnya hingga menjadi seorang pebisnis sukses seperti saat ini. Sudhamek AWS merupakan seorang bungsu dari 11 bersaudara. Dirinya mengaku memiliki perjalanan hidup yang tak mudah, terutama dengan pengalamannya diejek dan direndahkan orang. 

Sudhamek muda kala itu pernah dianggap kere oleh temannya, sehingga menimbulkan luka batin yang cukup mendalam. Karena namanya yang cukup unik, Sudhamek tak jarang ditertawakan oleh teman sebayanya. Ia mengakui hal tersebut membuatnya merasa rendah diri saat itu. 

Kemudian, kondisi mulai berubah ketika ia menempuh perguruan tinggi di salah satu universitas di Salatiga. Ia bertemu dengan seorang psikolog yang memberinya motivasi untuk terus berjuang meski mengalami banyak hambatan secara sosial. Dari situlah muncul tekad dalam diri Sudhamek untuk membuktikan bahwa dirinya berdaya.  

“Pada saat saya mengalami hal seperti itu (dibully), saya tidak lalu menjadi marah dan agresif, tapi kemarahan itu saya salurkan menjadi energi yang positif untuk saya buktikan yang sebaliknya. Saya beruntung punya sifat seperti itu” ungkap Sudhamek dalam tayangan video Youtube Yudi Candra. 

Setelah lulus kuliah, Sudhamek justru lebih senang mejadi karyawan di suatu perusahaan. Padahal sang ayah kala itu telah menyiapkan ladang bisnis untuk anak-anakya. Menurutnya, dengan bekerja di perusahaan orang, justru membuat dia belajar untuk membangun usaha sendiri. 

Saat awal-awal meniti bisnis Garuda Food dengan produk pertamanya Kacang Garuda, Sudhamek memiliki pengalaman buruk. Dimana kala itu Garuda Food hendak beriklan di sebuah stasiun televisi swasta namun bisnisnya dilecehkan dan ditolak beriklan. Karena iklan kacang garuda dianggap dapat menurunkan rating televisi tersebut. Meski begitu, Sudhamek tak menyesalkan hal itu. 

Sampai akhirnya, Kacang Garuda untuk pertama kalinya mencapai omset sebesar Rp200 miliar. Hal itu merupakan pencapaian besar bagi bisnis kacang kala itu. Sudhamek pun bangga karena mampu membuktikan bahwa bisnis kacang bukanlah bisnis kacangan.

Sudhamek menceritakan pelajaran hidup yang ia peroleh semasa muda dari sang ibu. Ia sering diberikan wejangan-wejangan bijak dari ibunya untuk terus belajar dan menjadi orang rendah hati. Ia masih ingat dengan ungkapan ibunya seperti “Gembol ilmu iku ra ngganjel” artinya mengemban ilmu itu tidak berat, karena ilmu akan selalu mengikuti kita kemana kita pergi, ajaran itulah yang membuatnya menjadi seorang lifetime learner. Sudhamek juga belajar tentang kerendahatian dari sang ibu yang pernah mengatakan “Urip iku kudu lembah hatine”, ungkapan tersebut masih ia pegang sampai sekarang.

“Jadi kalau saya mendapat pujian dari orang, saya berusaha agar tidak teracuni oleh kata-kata pujian tersebut. Jadi itu membantu saya supaya tidak sombong” kata Sudhamek.

Kini, Sudhamek memimpin perusahan besar tersebut yang saat ini telah memiliki 2 anak usaha yaitu PT. Sinarniaga Sejahtera, Goldenbird Pacific Trading Pte Ltd, dan PT Mulia Boga Raya Tbk. Perusahaannya kini juga telah mempekerjakan setidaknya 8.811 karyawan. Total aset perusahaannya mencapai Rp6,767 triliun menurut laporan di tahun 2021. 

Suatu ketika, Sudhamek pernah juga mengalami cobaan berat saat anak keduanya mengidap penyakit leukimia. Dengan biaya pengobatan yang cukup mahal, Sudhamek harus berhutang kesana kemari. Hingga akhirnya ia harus merelakan kepergian anaknya yang telah hampir 2 tahun menderita penyakit leukimia. 

Halaman : 1 2
link copied to clipboard
COPY TO CLIPBOARD