AALI
8400
ABBA
590
ABDA
0
ABMM
1200
ACES
1290
ACST
248
ACST-R
0
ADES
2800
ADHI
905
ADMF
7700
ADMG
216
ADRO
1500
AGAR
356
AGII
1395
AGRO
2570
AGRO-R
0
AGRS
228
AHAP
70
AIMS
336
AIMS-W
0
AISA
202
AISA-R
0
AKKU
50
AKPI
590
AKRA
4130
AKSI
414
ALDO
730
ALKA
254
ALMI
238
ALTO
324
Market Watch
Last updated : 2021/09/24 Data is a realtime snapshot, delayed at least 10 minutes
IDX30
460.94
0.12%
+0.54
IHSG
6144.82
0.03%
+2.10
LQ45
866.25
0.09%
+0.74
HSI
24192.16
-1.3%
-318.82
N225
30248.82
2.06%
+609.42
NYSE
0.00
-100%
-16352.18
Kurs
HKD/IDR 1,828
USD/IDR 14,245
Emas
803,749 / gram

Tajir! Dulu Tukang Las, Kini Jadi Miliarder Berharta Rp161 Triliun

INSPIRATOR
Aditya Pratama/iNews
Senin, 02 Agustus 2021 06:12 WIB
Pendiri dan CEO Haidilao International Holding Zhang Yong adalah salah satu orang terkaya di Singapura.
Tajir! Dulu Tukang Las, Kini Jadi Miliarder Berharta Rp161 Triliun (FOTO:MNC Media)

IDXChannel - Pendiri dan CEO Haidilao International Holding Zhang Yong adalah salah satu orang terkaya di Singapura. Berdasarkan data Forbes, total kekayaannya mencapai 11,1 miliar dolar AS atau Rp161 triliun.  

Semua kekayaan tersebut berasal dari kerajaan restoran hotpot Haidilao. Dia memiliki banyak restoran hotpot yang tersebar di seluruh dunia, sehingga membuat Zhang dijuluki sebagai raja restoran hotpot.  

Kesuksesan pria yang berada di urutan 75 orang terkaya dunia ini tidak dicapai dengan mudah. Zhang bukan keturunan miliarder atau pengusaha. Dia bahkan tak pernah menyelesaikan pendidikan Sekolah Menengah Atas (SMA).  

Awalnya, Zhang yang tidak tahu cara menyajikan hotpot ini baru mengunjungi restoran hotpot untuk pertama kalinya pada usia 19 tahun. Sayangnya, miliarder kelahiran Sichuan, China itu mendapatkan pengalaman yang kurang menyenangkan saat itu. Menurutnya, makanan yang disajikan di bawah standar dan pelayanannya buruk. 

Namun pengalaman tersebut justru membuat Zhang menyadari pentingnya layanan pelanggan. Setelah berselisih dan ditolak bosnya untuk mendapatkan apartemen perusahaan, dia memutuskan berhenti dari pekerjaannya sebagai tukang las di pabrik traktor yang telah enam tahun ditekuninya. 

Pada 1994, dia membuka restoran hotpot pertama. Dia mengaku tidak memiliki modal, latar belakang memasak atau keahlian yang mumpuni dalam menyiapkan hotpot tradisional Sichuan. Namun dia memiliki visi menawarkan pengalaman restoran yang berkesan kepada pelanggannya. 

Zhang mendirikan Haidilao bersama kekasihnya Shu Ping yang kini menjadi istrinya, serta dua teman. Mereka membuka restoran dengan empat meja di rumahnya di Jianyang, Sichuan. 

"Saya tidak punya uang, jadi yang lain adalah investor, meskipun seluruh investasi kurang dari 10.000 yuan. Meskipun saya tidak berkontribusi banyak dalam modal uang di awal, saya mengambil posisi sebagai manajer umum dan berjanji kepada yang lain bahwa aset kami akan tumbuh menjadi 150.000 yuan dalam lima tahun," katanya, dikutip dari NextShark, Minggu (1/8/2021). 

Ternyata dalam beberapa bulan, bisnis hotpot empat mejanya sukses dan mengalahkan semua bisnis hotpot lainnya di Jianyang. Mereka pun mempercantik restoran, memperbaiki dekorasi, dan melengkapi ruangan dengan AC. Pada 1998, mereka akhirnya membuka toko kedua. 

Pada 2018, Zhang menjadi warga negara Singapura yang dinaturalisasi. Pada akhir tahun itu, Haidilao telah berkembang ke 466 lokasi di lebih dari 100 kota di China daratan, Hong Kong, Taiwan, Singapura, Korea Selatan, Jepang, Australia, Kanada, dan Amerika Serikat (AS). 

Pada 2019, Haidilao tumbuh hampir 600 cabang di 10 negara. Restorannya di Beijing bahkan mulai menggunakan lengan robot untuk menyiapkan dan mengirimkan hidangan yang dipesan melalui iPad. 

Mengutip Forbes, Haidilao terkenal dengan hidangan pedas dan berkuah serta layanan yang memanjakan pelanggan, seperti manikur gratis dan semir sepatu saat menunggu makanan datang. Haidilao saat ini mencatatkan penjualan sebesar 3,8 miliar dolar AS dari 789 restorannya yang tersebar di seluruh dunia.

(SANDY)

link copied to clipboard
COPY TO CLIPBOARD