Kemudian, dalam prospektusnya, perseroan juga menyebut bahwa industri In Vitro Diagnostics di Indonesia berpeluang untuk tumbuh, didukung oleh komitmen pemerintah dalam peningkatan akses dan kualitas layanan kesehatan.
3. Siapa Pemiliknya?
Berdasarkan akta pendirian, terdapat tiga pihak pendiri yang menyetorkan dan menempatkan modal di Proline. Yakni Drs Soesanto Natanel, Dr Hubertus Susilaganda Sutoyo, dan asosiasinya PT Prodia Widyahusada Tbk (PRDA).
Lalu berdasarkan perubahan anggaran dasar terakhir saat prospektus dibuat, berikut ini adalah susunan kepemilikan saham di PRDL sebelum IPO:
- PT Prodia Utama 622,20 juta saham (51 persen)
- PT Prodia Widyahusada Tbk 475,80 juta saham (39 persen)
- Diasys Diagnostic System GmbH 122 juta saham (10 persen)
Setelah IPO, susunan kepemilikan saham PRDL akan berubah menjadi:
- PT Prodia Utama 622,20 juta saham (35,70 persen)
- PT Prodia Widyahusada Tbk 475,80 juta saham (27,30 persen)
- Diasys Diagnostic System GmbH 122 juta saham (7 persen)
- Publik 522,90 juta saham (30 persen)
Dalam IPO ini perseroan akan melepas 522,90 juta saham baru kepada masyarakat. Adapun total sahamnya nanti akan berjumlah 1,74 juta saham. Nilai sahamnya Rp50 per unit dan harga yang ditawarkan adalah Rp100-Rp120 per unit.
4. Untuk Apa Dananya?
Dari IPO ini, perseroan mengincar dana sebanyak-banyaknya Rp62,74 miliar. Mayoritas dana IPO, senilai Rp35,66 miliar, akan digunakan untuk membayar pelunasan pokok fasilitas kredit ke PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) dan PT Bank Pan Indonesia Tbk (PNBN).