Lebih lanjut, Faisal menyoroti melemahnya pasar saham domestik belakangan ini merupakan implikasi langsung dari cara pelaku pasar memandang kondisi Indonesia saat ini. Meskipun indikator ekonomi makro mungkin terlihat stabil di atas kertas, perspektif publik terhadap masa depan ekonomi jauh lebih berpengaruh terhadap keputusan investasi.
Oleh karena itu, kebijakan otoritas diharapkan tidak hanya terpaku pada penguatan data fundamental, tetapi juga harus mampu meredam gejolak ekspektasi negatif. Faisal menegaskan bahwa langkah komunikatif dan respons yang konkret dari pembuat kebijakan merupakan kunci utama untuk menenangkan situasi.
"Pemerintah perlu mewaspadai faktor sentimen seperti ini karena bisa jadi kalaupun fundamental bukan menjadi faktor utamanya, tapi sering kali faktor sentimen, perspektif, ya. Nah, ini sehingga artinya apa yang menjadi kekhawatiran pasar harus betul-betul direspon oleh pemerintah secara serius dan dengan langkah yang tepat, ya dan untuk bisa mengembalikan kepercayaan para pelaku usaha," kata dia.
Dengan adanya respons yang serius dan terukur, diharapkan kepercayaan para pelaku usaha serta investor dapat kembali pulih. Langkah ini dipandang mendesak guna menjaga stabilitas pasar keuangan nasional di tengah ketidakpastian global yang masih terus membayangi.
Adapun menurut Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa, fundamental ekonomi nasional masih berada dalam kondisi yang baik dengan didukung kondisi fiskal yang kuat. Karena itu, dia meminta pelaku pasar dan investor tidak terbawa sentimen negatif yang berkembang.