“Ke depan, kami berharap ekosistem kebijakan yang mendukung daya saing industri pengolahan dan pertambangan dalam negeri dapat terus diperkuat. Dengan demikian, Indonesia mampu memaksimalkan manfaat hilirisasi sekaligus tetap kompetitif di tengah dinamika global,” imbuh dia.
Sebagai informasi, smelter tembaga AMMAN yang masuk dalam Proyek Strategis Nasional (PSN) tersebut memiliki kapasitas pengolahan hingga 900 ribu metrik ton konsentrat per tahun. Konsentrat tersebut berasal dari tambang Batu Hijau dan ke depannya juga akan dipasok dari tambang Elang.
Rampungnya smelter AMMN hadir di tengah momentum lain yang tidak kalah penting, yakni lonjakan kebutuhan tembaga dunia akibat ekspansi pusat data kecerdasan buatan (AI) dan jaringan listrik.
Sejumlah analis, termasuk Andreas Yordan Tarigan dari Sucor Sekuritas dalam riset pada 7 Juli 2026, menyebut infrastruktur tersebut membutuhkan tembaga jauh lebih banyak dibandingkan infrastruktur konvensional.
Namun, kendati banyaknya sorotan pada AMMN sebagai pemasok tembaga di tengah revolusi AI global, atau meminjam istilah Andreas, super siklus tembaga di era AI, orang terbilang jarang membahas kecerdasan buatan yang justru sudah dipakai Amman sendiri di dalam operasional tambangnya.