Meskipun saham-saham tersebut mengalami tekanan, Airlangga mencatat bahwa saham dengan fundamental kuat justru menunjukkan performa yang berlawanan.
"Nah fear of missing out ini terjadi dari investor yang berpikir bahwa saham-saham yang sekarang mereka invest itu termasuk yang saham kita sebut saham olahan. Sehingga itu nanti akan terkena regulasi yang harus naik free float-nya ke 15 persen. Sehingga dengan demikian mereka melepas saat sekarang. Tetapi kalau kita lihat saham-saham yang fundamentalnya bagus juga ada naik," tuturnya.
Terkait pertemuan krusial antara Bursa Efek Indonesia (BEI) dengan lembaga indeks global MSCI yang berlangsung sore ini, Airlangga memberikan pandangan optimistis. Ia menilai masuknya dana asing hari ini menjadi bukti bahwa langkah reformasi integritas pasar yang diambil pemerintah mulai membuahkan hasil.
"Pertemuan MSCI dengan BEI dilakukan secara Zoom. Jadi saya sih melihat dengan masuknya net inflow asing, mereka percaya dengan upaya reform yang dilakukan," kata Airlangga.
Upaya reformasi yang tengah berjalan, termasuk keterbukaan data pemilik saham di bawah 5 persen dan audit free float yang lebih ketat, diharapkan dapat segera menstabilkan IHSG dan mengukuhkan posisi Indonesia dalam peta investasi global.
(kunthi fahmar sandy)