Arini menilai penguatan kapasitas manufaktur diperlukan untuk memanfaatkan momentum permintaan emas domestik. Dengan tambahan kapasitas tersebut, Antam berharap dapat memperbesar kemampuan menangkap pertumbuhan pasar tanpa hanya bergantung pada kenaikan harga emas.
"Dengan strong brand, market leadership, trusted product quality, serta kapasitas kami yang terus tumbuh dan diperkuat, kami merasa masih banyak ruang pertumbuhan yang menarik dan Insyaallah berkelanjutan bagi bisnis logam mulia Antam," katanya.
Selain fasilitas baru di Gresik, Antam juga mengandalkan fasilitas pemurnian Logam Mulia yang memiliki sertifikasi London Bullion Market Association (LBMA). Manajemen berpandangan, reputasi fasilitas pemurnian tersebut menjadi salah satu fondasi kepercayaan terhadap produk emas Antam.
Adapun secara keseluruhan, Antam mencatat pendapatan sekitar Rp62,7 triliun pada semester I-2026, tumbuh 6 persen secara tahunan. Laba bersih perseroan mencapai sekitar Rp6,9 triliun, meningkat 34 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Kontribusi pendapatan tersebut disokong dari segmen emas sekitar 79 persen atau setara Rp26,4 triliun, diikuti segmen nikel 18 persen atau setara Rp5,9 triliun, bauksit 3 persen atau setara Rp1 triliun dalam komposisi pendapatan perseroan.
(NIA DEVIYANA)