AALI
9950
ABBA
0
ABDA
0
ABMM
780
ACES
1515
ACST
280
ACST-R
0
ADES
1675
ADHI
1065
ADMF
8250
ADMG
163
ADRO
1185
AGAR
448
AGII
1190
AGRO
1005
AGRO-R
0
AGRS
320
AHAP
77
AIMS
284
AIMS-W
0
AISA
288
AISA-R
0
AKKU
50
AKPI
456
AKRA
3130
AKSI
800
ALDO
675
ALKA
238
ALMI
226
ALTO
326
Market Watch
Last updated : 2021/04/16 Data is a realtime snapshot, delayed at least 10 minutes
IDX30
483.36
-0.1%
-0.50
IHSG
6086.26
0.11%
+6.76
LQ45
907.67
-0.08%
-0.77
HSI
28969.71
0.61%
+176.57
N225
29642.69
0.07%
+21.70
NYSE
16116.85
0.73%
+116.70
Kurs
HKD/IDR 1,884
USD/IDR 14,643
Emas
831,440 / gram

Apa Itu Unrealized Loss (UL)? Yuk Pahami Biar Tidak Gagal Paham

MARKET NEWS
Taufik Fajar/Okezone
Jum'at, 05 Maret 2021 08:45 WIB
Unrealized Loss seakan jadi momok untuk perusahaan yang mengelola dana publik seperti BPJS Ketenagakerjaan, serta juga perusahaan-perusahaan sekuritas.
Apa Itu Unrealized Loss (UL)? Yuk Pahami Biar Tidak Gagal Paham. (Foto: MNC Media)

IDXChannel - Unrealized Loss (UL) akhir-akhir ini menjadi fenomena, bahkan menjadi momok menakutkan bagi para pihak yang terlibat. Terutama untuk perusahaan yang mengelola dana publik seperti BPJS Ketenagakerjaan atau BPJAMSOSTEK, serta juga perusahaan-perusahaan sekuritas di pasar bursa.

Tidak jarang, kejadian ini membuat mereka terancam dibui akibat ketidakpahaman nasabah saat menanamkan dananya. Banyak pihak menyorot fenomena UL, seperti yang dialami BPJS Ketenagakerjaan hingga dicap mengalami kerugian mutlak, padahal tidak.

Menurut Pengamat Hukum Pasar Modal, Indra Safitri, siapa saja yang ingin berinvestasi disebut investor. Suatu kerugian yang belum direalisasikan belum terjadi, belum bisa disebut kerugian, karena memang kondisi pasar yang bisa berubah, bisa naik turun.

"Mari kita melongok UU No. 21 Tahun 2011 tentang Otoritas Jasa Keuangan (OJK), UU No. 8 Tahun 1995 tentang pasar modal. Kalau dilihat kerugian tentu kita tidak bisa memisahkan dengan hukum yang mengatur investasi. Pasar itu selalu berubah, dalam hitungan jam saja pasar bisa berubah-ubah," ujar dia dalam keterangan tertulisnya, Kamis (4/3/2021).

Untuk mengurai kasus pidana di pasar modal membutuhkan waktu, dan harus diuraikan. Asetnya bagaiamana, apakah asetnya didapat dari kejahatan semua itu membutuhkan proses yang cukup panjang.

Kalau bicara UL, dalam pengetahuan Indra tentu dalam konteks kerugian, itu belum terjadi, hanya ada factor perhitungan maka dikatakan rugi. Sebenarnya siapa saja yang masuk ke pasar tentu treatmentnya sama, kalau modal negara yang berinvestasi dalam pasar modal rugi, tentu itu dalam pasar modal itu adalah kerugian negara.

Tapi negara juga ada untung. Ini ada keseimbangan, kapan dia untung, kapan dia rugi. Kalau Negara tidak ingin rugi, negara tidak usah berinvestasi di pasar modal, pasar bisa rugi dan bisa untung.

Kalau ingin melihat investasi dalam pasar modal, ita harus konsisten menggunakan perangkat yang ada dalam industri pasar modal ini. Posisinya BPJAMSOSTEK itu sebagai investor. Kalau ditanya terjadi kerugian karena produknya palsu, atau produknya tergolong dari penipuan hukum.

"Tapi misalnya sahamnya lahir karena perbuatan melawan hukum, ada mekanisme pengawasan, mekanisme transaksi secondary market, investor yang dirugikan. Kalau misalnya ada BUMN yang  berinvestasi, lihat, kalau ada unsur yang melawan hukum, biasanya kick back, suap, tapi kadang-kadang ada juga suap tapi saham yang dibeli saham blue chip," ungkap dia.

Profesor Keuangan dan Investasti IPMI Internasional Bisnis School, Roy Sembel, membandingkan kasus yang menimpa BPJAMSOSTEK dengan Jiwasraya. Kalau kasus Jiwasraya mulainya lebih dari 1 dekade lalu, karena pengelolaannya miss match dengan data statistik yang ada.

Kasus Jiwasraya itu ditenggarai melibatkan pemilihan manajer investasi dengan proses kurang good governance dan trading saham yang goreng-gorengan. Sementara hasil investasi BPJAMSOSTEK masih positif.

"Perbedaannya Jiwasraya memang sudah rugi, kalau BPJAMSOSTEK masih untung. Pemilihan Manajer Investasi (MI), BPJAMSOSTEK ketat, Jiwasraya longgar, karena itu Jiwasraya sedang terdesak," tutur dia.

Alokasi aset BPJAMSOSTEK itu hanya 17%, tapi Jiwasraya karena mengejar high risk high return maka lebih besar. Alokasi portofolio BPJAMSOSTEK 95% saham LQ45, artinya fundamental dianggap bursa bagus, sementara Jiwasraya saham “goreng-gorengan”.

"Namanya market turun, apalagi 2020 kuartal 2 dan 3, memang kalau market turun, mau itu saham dengan fundamental bagus, ya tetap turun."

Tapi selama itu belum dijual kembali, itu baru di atas kertas (belum terealisasi), dan kebetulan memang dibuktikan bahwa ketika market naik, maka UL di BPJAMSOSTEK juga menurun.  

"UL ini dianggap wajar, karena kalau dilihat dari strategi investasinya, aset alokasinya dan tactical alokasinya itu mencerminkan tidak ada hal-hal aneh, kalau ada UL itu artinya market bergejolak. Investasi itu ada potensi returnnya, tapi ada resikonya juga," tandas dia. (TYO)

Rekomendasi Berita
Berita Terkait
link copied to clipboard
COPY TO CLIPBOARD