IDXChannel – Investor asing membukukan aksi jual bersih (net sell) sebesar Rp7,39 triliun di pasar reguler selama sepekan terakhir.
Gelombang pelepasan saham tersebut terjadi di tengah tekanan besar di pasar modal domestik yang membuat Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah signifikan 4,20 persen ke level 5.594,77 pada perdagangan Jumat (5/6/2026).
Secara mingguan, IHSG terkoreksi 8,69 persen dan turun ke posisi terendah sejak akhir 2020.
Saham yang paling banyak dilepas investor asing selama sepekan adalah PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) dengan nilai net sell mencapai Rp2,29 triliun. Di saat yang sama, saham BBCA terkoreksi 10,96 persen dalam sepekan dan ditutup di level Rp5.075 per unit pada Jumat (5/6/2026).
Posisi kedua ditempati PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) milik Prajogo Pangestu yang mencatat net sell asing sebesar Rp2,01 triliun.
Saham TPIA juga menjadi salah satu yang paling tertekan dengan penurunan 26,89 persen dalam sepekan ke harga penutupan Rp1.305 per unit.
Selanjutnya, investor asing membukukan jual bersih sebesar Rp1,03 triliun pada PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI). Saham BBRI turun 7,12 persen sepanjang pekan dan berakhir di level Rp2.740 per unit.
Tekanan jual juga terjadi pada PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) dengan net sell mencapai Rp399,53 miliar. Saham BMRI melemah 5,88 persen dalam sepekan dan ditutup pada harga Rp3.840 per unit.
Sementara itu, PT Astra International Tbk (ASII) mencatat net sell asing sebesar Rp382,97 miliar. Saham ASII terkoreksi 8,60 persen selama sepekan ke level Rp4.570 per unit.
Di luar saham-saham yang tertekan, PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) menjadi pengecualian. Meski masih mengalami net sell asing sebesar Rp283,13 miliar, saham DSSA justru melesat 23,98 persen dalam sepekan dan ditutup di harga Rp610 per unit, kendati dalam keadaan downtrend.
Kemudian, PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI) mencatat net sell sebesar Rp273,14 miliar. Saham BBNI turun 13,24 persen sepanjang pekan dan berakhir di level Rp3.210 per unit.
Lebih lanjut, PT ANTAM (Persero) Tbk (ANTM) menjadi saham terakhir dalam daftar delapan besar net sell asing dengan nilai Rp266,37 miliar. Saham ANTM melemah 5,17 persen selama sepekan dan ditutup pada harga Rp2.750 per unit.
Phintraco menilai tekanan jual dipicu oleh sejumlah isu domestik, termasuk rencana revisi Undang-Undang Pengembangan dan Penguatan Sektor Keuangan (P2SK) yang memunculkan kekhawatiran pasar terhadap potensi terganggunya independensi lembaga keuangan.
Di sisi fiskal, Kementerian Keuangan melaporkan realisasi APBN hingga Mei 2026 mencatat defisit Rp180,4 triliun atau setara 0,7 persen dari produk domestik bruto (PDB). Angka tersebut meningkat dibandingkan defisit Rp20,9 triliun atau 0,09 persen dari PDB pada periode yang sama tahun lalu.
Meski demikian, Phintraco menilai posisi tersebut masih relatif terkendali karena berada jauh di bawah target defisit APBN 2026 yang ditetapkan sebesar Rp689,1 triliun atau 2,68 persen dari PDB.
Tekanan juga terlihat di pasar valuta asing. Nilai tukar rupiah ditutup melemah 0,46 persen ke level Rp18.049 per dolar AS. Pelemahan yang berlanjut memicu spekulasi bahwa Bank Indonesia dapat menggelar Rapat Dewan Gubernur (RDG) di luar jadwal sebelum pertemuan yang telah dijadwalkan pada 17–18 Juni 2026.
Pada pekan depan, pasar akan mencermati sejumlah data ekonomi domestik, antara lain cadangan devisa Mei 2026 pada 8 Juni, indeks kepercayaan konsumen Mei 2026 pada 10 Juni, serta data penjualan ritel April 2026 pada 11 Juni.
"Di tengah minimnya katalis positif dan masih kuatnya tekanan sentimen negatif, IHSG diperkirakan berpotensi menguji level 5.500 pada pekan depan," tulis Phintraco Sekuritas dalam risetnya. (Aldo Fernando)
Disclaimer: Keputusan pembelian/penjualan saham sepenuhnya ada di tangan investor.