ASSA menilai tantangan industri transportasi dan logistik saat ini tidak lagi sebatas ketersediaan armada, melainkan kemampuan mengelola informasi operasional secara terintegrasi. Melalui TMS, perusahaan dapat mengoptimalkan perencanaan rute, pemantauan pengiriman, pengendalian service level agreement (SLA), hingga rekonsiliasi biaya transportasi dalam satu sistem.
Sistem tersebut juga akan dilengkapi layanan Business Process Outsourcing (BPO) dan Control Tower yang memungkinkan pemantauan operasional secara real-time serta penanganan insiden secara proaktif.
Selain itu, integrasi teknologi IoT akan dimanfaatkan untuk meningkatkan visibilitas operasional, mulai dari pelacakan GPS, pemantauan suhu dan kelembapan, hingga analisis perilaku pengemudi.
ASSA menargetkan peluncuran komersial TMS pada Agustus 2026. Saat ini, sistem masih berada dalam tahap uji coba internal dengan sejumlah modul utama, antara lain Order Management, Shipment Management, Monitoring, Customer Billing, Freight Settlement, serta Dashboard & Report.
Berdasarkan studi kelayakan yang disusun oleh Kantor Jasa Penilai Publik (KJPP) Ruky, Safrudin & Rekan (RSR), rencana penambahan kegiatan usaha tersebut dinilai layak secara bisnis.