Meski demikian, kinerja segmen ini mulai membaik pada kuartal III-2026, dengan pertumbuhan 15 persen secara tahunan.
Sepanjang sembilan bulan pertama 2026, segmen solusi pertambangan dan alat berat juga membukukan pos-pos nonberulang sebesar Rp2,2 triliun pada divisi panas bumi dan nikel. Setelah memperhitungkan pos tersebut, laba bersih yang dilaporkan turun 59 persen menjadi Rp2,9 triliun.
Dari sisi operasional, volume pengupasan lapisan tanah oleh divisi jasa pertambangan turun 7 persen menjadi 766 juta bank cubic metres (BCM). Penjualan alat berat Komatsu juga menyusut 17 persen menjadi 3.000 unit, terutama akibat melemahnya permintaan dari sektor pertambangan.
Penjualan batu bara turun 23 persen menjadi 7,1 juta ton. Adapun penjualan emas tercatat 54.000 ons, jauh lebih rendah dibandingkan dengan 178.000 ons pada periode yang sama tahun lalu. Penurunan penjualan emas tersebut terjadi setelah operasional tambang Martabe dihentikan sementara pada awal tahun sebelum kembali beroperasi pada kuartal II-2026.
Bisnis Lain-lain Tumbuh 36 Persen
Segmen Lain-lain, yang terutama mencerminkan bisnis wider businesses Astra, mencatatkan laba bersih sebelum pos-pos nonberulang sebesar Rp2,6 triliun. Angka tersebut meningkat 36 persen dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu.