Diskusi tersebut membedah tantangan finansial di tingkat profesi yang belum sepenuhnya terhubung dengan layanan keuangan, persoalan yang kerap luput dari gambaran pertumbuhan industri film secara keseluruhan.
Diskusi lintas industri ini merespons potensi besar ekonomi kreatif Indonesia yang berperan penting dalam penyerapan tenaga kerja nasional. Pada 2025, sektor ini menyerap 27,4 juta pekerja, melampaui target 25,55 juta orang. Industri film menjadi salah satu subsektor dengan multiplier effect yang luas.
Pertumbuhan sektor perfilman nasional tidak hanya membuka peluang bagi sineas dan aktor, tetapi juga penulis, editor, kameramen, kru produksi, vendor, serta berbagai sektor pendukung lainnya.
Melalui diskusi tersebut, Amar Bank melihat bahwa pendekatan finansial bagi industri film perlu disesuaikan dengan karakter usahanya. Senior Vice President MSME Amar Bank, Josua Sloane, menilai langkah itu penting agar pertumbuhan industri film dapat berjalan seiring dengan penguatan finansial para pelakunya.
“Industri film memiliki siklus yang berbeda dari sektor konvensional. Mulai dari fase pengembangan, kebutuhan investasi di awal, hingga distribusi dan monetisasi. Karena itu, pola pertumbuhan dan arus kasnya tidak bisa disamakan dengan sektor konvensional. Bagi kami, memahami cara industri ini bekerja menjadi penting agar potensi ekonominya dapat dilihat secara lebih utuh,” ujar Josua.