Meskipun menghadapi kenaikan biaya produksi, khususnya dari pembelian tandan buah segar (TBS) pihak ketiga serta biaya pemeliharaan, perseroan tetap membukukan laba kotor sebesar Rp960,50 miliar, EBITDA sebesar Rp904,30 miliar.
Dari sisi operasional, produksi TBS kebun inti naik 1,5 persen menjadi 552.631 ton, sedangkan produksi TBS kebun plasma tumbuh 10,5 persen menjadi 83.382 ton. Total TBS yang diolah meningkat 4,7 persen menjadi 734.369 ton.
Sejalan dengan itu, produksi CPO naik 6,6 persen menjadi 169.881 ton dengan Oil Extraction Rate (OER) mencapai 23,13 persen. Adapun produksi PK tercatat sebesar 27.622 ton dan CPKO sebesar 6.780 ton.
Wishnu menjelaskan, peningkatan ini didukung oleh penerapan Teladan Productivity Technology Science (TPTS) berbasis data serta pengembangan Teladan Green Metrics (TGM) untuk aspek Environmental, Social, and Governance (ESG).
"Memasuki paruh kedua tahun 2026, perseroan akan terus berfokus pada peningkatan produktivitas, efisiensi operasional, serta implementasi praktik perkebunan berkelanjutan. Dengan fundamental operasional yang kuat dan disiplin dalam menjalankan strategi bisnis, kami optimistis dapat terus menciptakan nilai tambah yang berkelanjutan bagi seluruh pemegang saham dan pemangku kepentingan," tutur Wishnu.
(DESI ANGRIANI)