Ronald juga menyampaikan, rencana pencatatan saham di bursa harus disikapi secara matang dan profesional, bukan sekadar mengejar reputasi instan di industri.
“Kalau memang ada rencana IPO, itu bukan cuma, bahasa sederhananya, gaya-gayaan saja. ‘Oh, perusahaan kami sudah IPO’. Tapi begitu IPO itu justru orang publik atau investor semakin melihat kita semakin transparan,” kata dia.
Oleh karena itu, pendampingan yang diberikan MCI kepada perusahaan portofolionya mencakup penguatan fungsi pengawasan jajaran komisaris, profesionalitas manajemen, serta efektivitas struktur organisasi.
“Yang kita tekankan ke portofolio kita itu bukan cuma kinerja keuangan, tapi secara organisasi siap enggak sih untuk IPO,” kata Ronald.
Dia juga mencontohkan keberhasilan salah satu portofolio MCI di sektor makanan dan minuman (food and beverage/FnB) yang telah resmi melantai di bursa pada tahun lalu.
Capaian tersebut menjadi bukti nyata sekaligus tolok ukur bagi perusahaan portofolio lainnya yang tengah membidik pasar modal.
“Itu sebenarnya jadi salah satu rujukan juga bagi perusahaan-perusahaan lain, ternyata masih ada optimisme di Indonesia,” ujar Ronald.
(Dhera Arizona)