Dia menambahkan, semakin banyak investor yang mulai mempertimbangkan eksposur terhadap dolar AS sebagai bagian dari strategi investasi jangka panjang, bukan semata-mata untuk memanfaatkan pergerakan kurs dalam jangka pendek.
“Eksposur terhadap mata uang yang berbeda dapat menjadi diversifikasi dalam pengelolaan portofolio. Bagi sebagian investor, hal ini juga berkaitan dengan kebutuhan keuangan di masa depan yang memiliki keterkaitan dengan dolar AS,” katanya.
BRI-MI merespons kebutuhan ini melalui BRI Seruni Likuid Dolar (BSLD), reksa dana pasar uang yang berinvestasi pada instrumen pasar uang dan efek bersifat utang berdenominasi dolar AS dengan jatuh tempo di bawah satu tahun. Sejak peluncurannya pada 10 Juli 2025 hingga 8 Juni 2026, BSLD mencatatkan imbal hasil sebesar 3,14 persendalam denominasi dolar AS atau ekuivalen 15,54 persen dalam denominasi Rupiah pada periode yang sama, didukung oleh apresiasi nilai tukar dolar AS terhadap rupiah.
“Dengan fokus pada instrumen jangka pendek, BSLD mempertahankan tingkat likuiditas yang relatif tinggi, sebuah diferensiasi yang membedakannya dari instrumen dolar berjangka panjang. Sehingga, instrumen pasar uang berbasis dolar dapat menjadi salah satu pilihan bagi investor yang mengutamakan fleksibilitas dalam pengelolaan dana sekaligus ingin mulai membangun eksposur terhadap dolar AS secara bertahap,” kata Bagus.
Di tengah volatilitas nilai tukar yang masih menjadi perhatian pasar, investor memiliki berbagai alternatif untuk memperluas diversifikasi portofolio. Instrumen berbasis dolar AS dapat menjadi salah satu pilihan untuk melengkapi strategi investasi jangka menengah maupun jangka panjang.