IDXChannel - Perhatian investor terhadap pasar saham Indonesia kini tidak hanya tertuju pada potensi penurunan status dari pasar berkembang (emerging market) oleh MSCI, tetapi juga pada kebijakan pembekuan (freeze) saham Indonesia dalam produk indeks MSCI.
Kebijakan freeze yang diumumkan pada Januari lalu membuat tidak ada saham Indonesia baru yang masuk ke indeks MSCI.
Bahkan, enam saham Indonesia telah dikeluarkan dari indeks pada Mei, yang turut mendorong dana pasif keluar dari pasar saham domestik.
Reuters melaporkan, Jumat (19/6/2026) lalu, sebagian besar analis memperkirakan MSCI masih akan memperpanjang periode freeze tersebut sambil menunggu respons Indonesia terhadap sejumlah kekhawatiran yang disampaikan oleh penyedia indeks global tersebut.
Sementara, pengamat pasar modal Michael Yeoh mengatakan banyak investor masih berekspektasi Indonesia akan mempertahankan status sebagai pasar berkembang.
Namun, menurut dia, perhatian utama investor saat ini bukan hanya terkait klasifikasi pasar, melainkan kapan kebijakan freeze tersebut akan berakhir.
“Banyak yang berekspektasi bahwa Indonesia akan tetap di emerging market. Ini sebenarnya hal yang masih diwanti-wanti oleh investor. Saya melihat poin utama selain dari country classification adalah kapan periode freeze di Indonesia akan dibuka,” ujar Michael, Senin (22/6/2026).
Menurut Reuters, risiko penurunan status Indonesia menjadi pasar frontier market memang dinilai relatif kecil. Namun, jika skenario tersebut terjadi, dampaknya dapat memicu tekanan besar di pasar saham domestik.
Penurunan status MSCI akan memaksa dana pasif yang mengikuti indeks MSCI melakukan penyesuaian portofolio.
Investor aktif juga berpotensi mengurangi eksposur terhadap saham Indonesia karena sebagian mandat investasi membatasi kepemilikan aset dari negara berstatus frontier market.
Goldman Sachs memperkirakan arus keluar dana dari pasar saham Indonesia dapat mencapai USD13 miliar atau setara dengan Rp232,05 triliun (asumsi kurs Rp17.850 per USD) apabila MSCI menurunkan klasifikasi Indonesia.
Selain itu, keputusan MSCI juga berpotensi mendorong penyedia indeks lain seperti FTSE Russell untuk melakukan evaluasi serupa.
Di luar isu klasifikasi pasar, investor masih mencermati persoalan struktural yang menjadi perhatian MSCI, seperti transparansi data kepemilikan saham, kemampuan investor global dalam menilai free float perusahaan, serta ketidakpastian kebijakan yang dapat memengaruhi persepsi terhadap pasar Indonesia. (Aldo Fernando)