IDXChannel - Bursa saham Asia beragam pada Kamis (30/7/2026), setelah gejolak tajam di sektor teknologi sepanjang pekan dan keputusan bank sentral Amerika Serikat (AS) atau Federal Reserve (The Fed) yang kembali mempertahankan suku bunga acuan.
Pelaku pasar masih mencermati arah kebijakan moneter The Fed ke depan.
Meski suku bunga ditahan, perbedaan pandangan di internal bank sentral AS memunculkan ketidakpastian mengenai peluang kenaikan suku bunga berikutnya untuk meredam inflasi.
Di saat yang sama, mengutip Reuters, imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor panjang naik ke level tertinggi dalam 19 tahun.
Di kawasan Asia, perhatian investor masih tertuju pada saham-saham semikonduktor setelah aksi jual besar-besaran di Korea Selatan mengguncang sentimen pasar.
Kekhawatiran terhadap besarnya belanja infrastruktur kecerdasan buatan (AI) dan potensi imbal hasilnya memicu volatilitas tinggi pada saham teknologi.
Meski demikian, indeks KOSPI Korea Selatan mampu bangkit sekitar 4 persen pada perdagangan Kamis setelah tertekan dalam beberapa sesi sebelumnya. Namun, secara mingguan indeks tersebut masih mencatat penurunan sekitar 12 persen.
Sentimen juga mendapat dorongan dari laporan keuangan Samsung Electronics yang membukukan lonjakan laba operasional hampir 19 kali lipat pada kuartal II-2026, sehingga membantu memperbaiki optimisme investor terhadap sektor teknologi.
Secara regional, indeks MSCI Asia Pacific ex-Japan menguat lebih dari 1 persen, sementara indeks Nikkei 225 Jepang naik sekitar 2 persen, meski masih mengarah pada pelemahan sekitar 3 persen sepanjang pekan ini.
Pergerakan bursa utama Asia lainnya cenderung beragam.
Indeks Shanghai Composite menguat tipis 0,01 persen, Hang Seng Hong Kong naik 0,09 persen, sedangkan ASX 200 Australia melemah 0,36 persen dan Straits Times Index (STI) Singapura turun 0,58 persen.
Dari pasar komoditas, harga minyak juga mulai terkoreksi setelah melonjak lebih dari 7 persen sehari sebelumnya akibat meningkatnya konflik di Timur Tengah.
Harga minyak Brent kembali turun ke bawah USD90 per barel, seiring data yang menunjukkan kapal tanker masih dapat keluar dari kawasan tersebut meski serangan rudal dan drone masih berlangsung.
Sementara itu, perhatian investor juga tertuju pada laporan keuangan perusahaan teknologi raksasa AS. Hasil kinerja Microsoft dan Meta menunjukkan perusahaan-perusahaan besar masih mampu menghasilkan arus kas yang kuat meski terus menggelontorkan investasi besar untuk pembangunan infrastruktur AI.
Sentimen ini membantu meredakan sebagian kekhawatiran pasar terhadap prospek sektor teknologi. (Aldo Fernando)