IDXChannel - PT Carsurin Tbk (CRSN) memproyeksikan adanya perbaikan profitabilitas pada 2026 setelah perseroan yang bergerak di bidang Testing, Inspection, and Certification (TIC) itu menuntaskan ekspansi besar-besaran dalam beberapa tahun terakhir.
Pada 2026, Carsurin menargetkan pendapatan sebesar Rp618,16 miliar, tumbuh 22 persen dari tahun lalu yang sebesar Rp504,96 miliar. Segmen sumber daya alam masih akan menjadi penopang utama pendapatan perseroan.
Profitabilitas bakal membaik. Laba kotor diproyeksikan naik dari Rp261,42 miliar menjadi Rp316,49 miliar. Laba operasional juga diproyeksikan meningkat dari Rp28,08 miliar menjadi Rp49,10 miliar. Dari sisi bottom line, laba bersih Carsurin bakal meningkat tiga kali lipat dari Rp5,69 miliar menjadi Rp17,52 miliar di 2026.
Rasio keuangan dari sisi margin juga meningkat. Margin laba kotor stabil di 51 persen, margin laba operasional naik dari 5,56 persen menjadi 7,94 persen. Margin laba bersih juga naik dari 1,13 persen menjadi 2,83 persen.
Direktur Keuangan Carsurin,, Theresia Ivonne menjelaskan bahwa penurunan laba bersih pada tahun lalu disebabkan oleh beban depresiasi pada peralatan laboratorium yang dibelanjakan oleh perseroan. Hal ini seiring dengan penyesuaian akuntansi yang menggunakan double declining method.
"Dengan menggunakan double declining method, yang mengakibatkan tingginya nilai biaya depresiasi di tahun pertama dan kedua berdasarkan investasi barang-barang tersebut," katanya dalam Paparan Publik di Jakarta, Kamis (21/5/2026).
Ivonne menambahkan, Carsurin juga akan mengurangi alokasi belanja modal pada 2026 menjadi Rp26,3 miliar. Untuk ke depan, perseroan akan fokus berupaya mengoptimalkan belanja modal yang telah direalisasikan.
"Diharapkan untuk tahun-tahun berikutnya, nilai investasi yang kami rencanakan tidak terlalu besar seperti tahun 2025. Tahun 2026, kami upayakan itu menargetkan untuk mengoptimalisasi barang aset yang telah dibeli untuk memaksimalkan operasional kinerja perusahaan," ujarnya.
Berdasarkan catatan IDX Channel, belanja modal Carsurin dalam tiga tahun terakhir cukup besar. Pada 2023, realisasi belanja modal mencapai Rp109 miliar, kemudian 2024 dan 2025 masing-masing mencapai Rp78 miliar dan Rp38 miliar.
Besarnya belanja modal tersebut menandakan ekspansi besar-besaran yang dilakukan oleh perseroan. Pada 2023 dan 2024, arus kas bebas (free cash flow/FCF) tercatat negatif meski pada 2025 mulai positif sebesar Rp6 miliar dengan arus kas operasional (operating cash flow/CFO) Rp44 miliar.
Sementara itu untuk 2026, Carsurin membidik CFO sebesar Rp60,64 miliar. Sementara itu, FCF diprediksi mencapai Rp36,25 miliar pada periode yang sama.
(Rahmat Fiansyah)