Dari sisi neraca, total aset CHIP pada 2025 tercatat sekitar Rp115 miliar, meningkat dari Rp113 miliar pada 2023. Perseroan juga berhasil menekan rasio utang, dengan current ratio mencapai tiga kali lipat kewajiban jangka pendek dan debt to equity ratio di angka 69 persen.
Rasio liabilitas terhadap aset berada di level 41 persen, mencerminkan struktur keuangan yang masih terjaga sehat.
RUPST juga menyetujui pengalokasian Rp200 juta ke dana cadangan sesuai ketentuan Undang-Undang Perseroan Terbatas, penetapan honorarium direksi dan komisaris dengan kenaikan tidak melebihi 10 persen dari tahun lalu, serta penunjukan kantor akuntan publik yang akan ditindaklanjuti oleh Komite Audit, Remunerasi, dan Nominasi.
Di tengah tekanan nilai tukar rupiah terhadap USD yang melonjak 20–30% dalam tiga hingga empat bulan terakhir, CHIP mengambil langkah mitigasi dengan memperbesar stok bahan baku untuk jangka tiga hingga enam bulan ke depan. Strategi ini memungkinkan perseroan mengamankan harga sebelum kenaikan dolar berlaku penuh. Selain itu, pendapatan ekspor dalam mata uang dolar dari pelanggan Zambia Telecom turut memberikan efek lindung nilai alami terhadap pembelian bahan baku impor.
"Dengan adanya penjualan ekspor, Zambia itu membantu kami juga. Karena kan dolar naik, otomatis kita ada keuntungan foreign exchange. Artinya bisa substitusi silang antara kita penjualan ekspor sama pembelian bahan baku," jelas Hasri.
Sementara itu, Direktur Utama CHIP, Ardarini, menyebut perseroan kini tengah menjajaki kontrak dengan agen bisnis di Nigeria sebagai langkah ekspansi lanjutan di benua Afrika. Langkah ini menyusul keberhasilan kemitraan dengan Zambia Telecom. Perseroan menargetkan dapat menambah dua negara baru pada 2027.