“Hingga penutupan Desember 2025, IHSG naik 22,1 persen ke level 8.646. Penguatan ini terutama didorong oleh saham-saham konglomerasi seperti DSSA, DCII, BRPT, TLKM, ASII, dan BRMS,” ujar Direktur PT Insight Investments Management, Camar Remoa, dalam paparan Market Outlook 2026, dikutip Minggu (18/1/2026).
Sebaliknya, saham-saham big cap tradisional, khususnya perbankan yang mendominasi indeks LQ45 dan SRI Kehati, mencatatkan kenaikan yang relatif terbatas. Indeks LQ45 hanya menguat 2,41 persen, sementara SRI Kehati naik 2,02 persen sepanjang 2025.
Memasuki 2026, Camar menilai pemulihan ekonomi domestik yang semakin solid berpotensi menjadi katalis utama bagi pasar saham. Pulihnya daya beli masyarakat diperkirakan akan mendorong perbaikan kinerja emiten, sekaligus membuka ruang bagi investor untuk kembali memburu peluang pertumbuhan di bursa.
Selain faktor domestik, peluang liquidity easing global juga menjadi sentimen positif. Tren penurunan suku bunga serta potensi kebijakan Quantitative Easing di Amerika Serikat dinilai dapat memperbaiki ekspektasi pertumbuhan ekonomi global dan mendorong aliran modal asing masuk ke pasar negara berkembang, termasuk Indonesia.
“Likuiditas yang lebih longgar berpotensi meningkatkan minat investor terhadap aset berisiko, termasuk pasar saham dan reksa dana berbasis saham,” kata Camar.