IDXChannel — PT Swayasa Prakarsa Tbk (SWAP) bersiap mencatatkan sahamnya di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada 10 September 2026. Harga penawaran umum perdana atau initial public offering (IPO) yang dipatok perseroan di kisaran Rp130–Rp140 per saham.
Direktur Utama Swayasa Prakarsa (SWAP) Bondan Ardiningtyas mengatakan, kehadiran SWAP bukan sekadar menambah jumlah emiten di BEI. Perseroan membawa model bisnis yang menggabungkan riset, inovasi, manufaktur, dan komersialisasi produk kesehatan.
"Sebuah segmen yang dinilai memiliki ruang pertumbuhan seiring meningkatnya kebutuhan masyarakat terhadap produk kesehatan," ujar Bondan dalam keterangannya, Senin (31/8/2026).
Bondan menerangkan, berangkat dari ekosistem Universitas Gadjah Mada (UGM), SWAP mengembangkan berbagai produk yang mencakup alat kesehatan, produk herbal hingga pangan fungsional. Model tersebut memberikan karakter tersendiri bagi perseroan di tengah berkembangnya industri kesehatan nasional.
Dia menerangkan, rencana penawaran umum saham menjadi bagian penting dari strategi pengembangan SWAP. Dana hasil IPO akan digunakan antara lain untuk modal kerja, pengembangan produk dan fasilitas, pemasaran, serta pembayaran kewajiban perseroan.
"Bagi SWAP, masuk ke pasar modal juga membuka peluang untuk meningkatkan kapasitas bisnis sekaligus memperkuat posisi perusahaan di industri healthcare," ujarnya.
Dia mengungkapkan, daya tarik SWAP semakin terlihat dari perkembangan kinerja terbaru. Pada semester I-2026, pendapatan perseroan tumbuh sekitar 77 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Pada periode yang sama, kerugian bersih juga berhasil ditekan secara signifikan.
"Pertumbuhan pendapatan tersebut mengindikasikan bisnis perseroan mulai menemukan momentum. Namun, tantangan berikutnya adalah bagaimana pertumbuhan tersebut dapat dikonversikan menjadi profitabilitas yang lebih kuat dan berkelanjutan," kata Bondan.
Namun, investor tetap perlu melihat SWAP secara realistis. Pertumbuhan pendapatan yang tinggi belum otomatis berarti fundamental perusahaan sudah sepenuhnya matang. Kemampuan menghasilkan laba dan arus kas yang konsisten akan menjadi faktor penting untuk menentukan keberhasilan perseroan dalam jangka panjang.
Dia menyampaikan, berangkat dari ekosistem Universitas Gadjah Mada (UGM), SWAP mengembangkan berbagai produk yang mencakup alat kesehatan, produk herbal hingga pangan fungsional. Model tersebut memberikan karakter tersendiri bagi perseroan di tengah berkembangnya industri kesehatan nasional.
Maka, kata Bondan, dengan kombinasi sektor healthcare, inovasi berbasis riset dan pertumbuhan pendapatan yang cukup agresif, SWAP memiliki cerita yang menarik untuk dibawa ke pasar modal.
Tantangannya adalah membuktikan cerita tersebut dapat diterjemahkan menjadi pertumbuhan laba, peningkatan efisiensi, serta arus kas yang sehat setelah menjadi perusahaan publik.
"Dengan demikian, perhatian investor terhadap SWAP tidak hanya akan tertuju pada pergerakan sahamnya setelah listing, tetapi juga pada kemampuan perseroan membangun fundamental bisnis dalam beberapa tahun ke depan," kata dia.
(Dhera Arizona)