"Kami ingin membangun bisnis yang terintegrasi, terdiversifikasi, dan mencetak pertumbuhan sustainable dengan kombinasi marjin serta growth yang baik. Ke depan, kami melihat peluang mineral lain seperti nikel sebagai kontraktor, sekaligus mengembangkan aset Gayo sebagai pemilik tambang," kata Ricardo.
Untuk memperkuat ekosistem usaha dan menekan biaya operasional, perseroan telah mendirikan tiga unit bisnis pendukung, yakni DH Listrik, Arunika di sektor hospitality, dan DH Infrastruktur. Pembentukan lini ketenagalistrikan ini dipicu oleh lonjakan harga bahan bakar minyak (BBM) solar yang membengkak hingga dua kali lipat dan menjadi komponen beban terbesar pada alat berat konvensional.
"Tiga bisnis baru ini kami siapkan untuk menunjang kebutuhan masa depan, terutama mitigasi lonjakan harga energi solar yang naik dari Rp13.000 menjadi Rp26.000 per liter. Kami berusaha tidak hanya terdiversifikasi dari sisi bisnis, tetapi juga pada sumber energi yang digunakan karena daya saing perusahaan ke depan bertumpu di situ," ujarnya.
Terkait mitigasi risiko fluktuasi harga bahan bakar, perseroan menerapkan skema penyesuaian biaya yang ditanggung oleh pihak pemilik tambang, sementara manajemen berfokus memaksimalkan efisiensi energi di lapangan.
Di sisi lain, pelaku usaha berharap pemerintah dapat menjaga konsistensi iklim regulasi agar tidak menghambat laju ekspansi industri pertambangan nasional.
"Tarif jasa kami sangat kompetitif dibanding kompetitor dengan mekanisme pass-through untuk BBM, sehingga kenaikan harga ditanggung pemilik tambang sementara kami menjaga efisiensi pemakaian energi. Kami juga berharap regulasi ke depan tidak flip-flop dan tetap mendukung pertumbuhan, bukan berubah setiap saat atau cenderung eksploitatif," ujar Ricardo.
(Dhera Arizona)