sosmed sosmed sosmed sosmed
get app
Advertisement

Darma Henwa (DEWA) Diversifikasi Portofolio Bisnis Demi Pacu Pertumbuhan Kinerja Berkelanjutan

Market news editor Rohman Wibowo
05/09/2026 16:30 WIB
PT Darma Henwa Tbk (DEWA) bersiap memperluas portofolio bisnisnya dengan merambah sektor mineral kritis dan logam mulia di luar komoditas batu bara.
Darma Henwa (DEWA) Diversifikasi Portofolio Bisnis Demi Pacu Pertumbuhan Kinerja Berkelanjutan. (Foto Tangkapan Layar)
Darma Henwa (DEWA) Diversifikasi Portofolio Bisnis Demi Pacu Pertumbuhan Kinerja Berkelanjutan. (Foto Tangkapan Layar)

IDXChannel - Emiten jasa pertambangan, PT Darma Henwa Tbk (DEWA) bersiap memperluas portofolio bisnisnya dengan merambah sektor mineral kritis dan logam mulia di luar komoditas batu bara. Langkah diversifikasi ini diarahkan untuk mentransformasi perseroan menjadi perusahaan induk investasi (investment holding company) yang berdaya saing tinggi serta memiliki pertumbuhan kinerja yang berkelanjutan.

Selama ini perseroan dikenal luas sebagai kontraktor jasa pertambangan terintegrasi yang banyak menggarap proyek-proyek batu bara nasional. Namun, manajemen kini mematangkan peta jalan jangka panjang untuk mengembangkan aset konsesi tambang milik sendiri sekaligus membidik komoditas mineral bernilai tambah tinggi.

"Secara historis kami memang kontraktor jasa pertambangan, tetapi visinya ke depan Darma Henwa ingin menjadi investment holding company. Ke depan kami tidak hanya mengandalkan batu bara, melainkan mulai masuk ke sektor lain dan mengembangkan aset sendiri, terutama tambang emas dan tembaga Gayo Mineral Resources di Aceh yang saat ini dalam fase eksplorasi," ujar Direktur DEWA Ricardo Silaen dalam podcast The Fundamentals yang disiarkan YouTube IDX Channel, dikutip Sabtu (5/9/2026).

Meskipun mulai memposisikan diri sebagai pemilik tambang, emiten berkode saham DEWA tersebut memastikan keahlian utama di bidang kontraktor tambang tetap menjadi pilar operasional perseroan. Perseroan baru saja mengamankan kontrak proyek baru sembari aktif menjajaki peluang pengerjaan tambang nikel dan mineral lainnya.

"Kami ingin membangun bisnis yang terintegrasi, terdiversifikasi, dan mencetak pertumbuhan sustainable dengan kombinasi marjin serta growth yang baik. Ke depan, kami melihat peluang mineral lain seperti nikel sebagai kontraktor, sekaligus mengembangkan aset Gayo sebagai pemilik tambang," kata Ricardo.

Untuk memperkuat ekosistem usaha dan menekan biaya operasional, perseroan telah mendirikan tiga unit bisnis pendukung, yakni DH Listrik, Arunika di sektor hospitality, dan DH Infrastruktur. Pembentukan lini ketenagalistrikan ini dipicu oleh lonjakan harga bahan bakar minyak (BBM) solar yang membengkak hingga dua kali lipat dan menjadi komponen beban terbesar pada alat berat konvensional.

"Tiga bisnis baru ini kami siapkan untuk menunjang kebutuhan masa depan, terutama mitigasi lonjakan harga energi solar yang naik dari Rp13.000 menjadi Rp26.000 per liter. Kami berusaha tidak hanya terdiversifikasi dari sisi bisnis, tetapi juga pada sumber energi yang digunakan karena daya saing perusahaan ke depan bertumpu di situ," ujarnya.

Terkait mitigasi risiko fluktuasi harga bahan bakar, perseroan menerapkan skema penyesuaian biaya yang ditanggung oleh pihak pemilik tambang, sementara manajemen berfokus memaksimalkan efisiensi energi di lapangan. 

Di sisi lain, pelaku usaha berharap pemerintah dapat menjaga konsistensi iklim regulasi agar tidak menghambat laju ekspansi industri pertambangan nasional.

"Tarif jasa kami sangat kompetitif dibanding kompetitor dengan mekanisme pass-through untuk BBM, sehingga kenaikan harga ditanggung pemilik tambang sementara kami menjaga efisiensi pemakaian energi. Kami juga berharap regulasi ke depan tidak flip-flop dan tetap mendukung pertumbuhan, bukan berubah setiap saat atau cenderung eksploitatif," ujar Ricardo.

(Dhera Arizona)

Halaman : 1 2
Advertisement
Advertisement