Menjaga selisih suku bunga domestik yang memadai dinilai tetap penting untuk menopang stabilitas rupiah dan daya tarik relatif aset domestik.
Dengan kondisi tersebut, pertumbuhan konsumsi pada paruh kedua 2026 diperkirakan tetap positif, tetapi tidak merata.
Belanja kebutuhan pokok dinilai lebih tahan terhadap tekanan, sementara konsumsi diskresioner masih membutuhkan dukungan dari pertumbuhan upah riil, kualitas lapangan kerja yang lebih baik, serta akses kredit yang lebih luas.
Pemulihan konsumsi yang tidak merata, kata Novani, membuat kualitas laba lebih penting dibandingkan eksposur sektor secara luas.
Di pasar saham, Mirae Asset memilih perusahaan konsumer yang memiliki kekuatan dalam menaikkan harga, margin yang resilien, serta eksposur terhadap segmen konsumen berpendapatan lebih tinggi.