IDXChannel – PT Cipta Perdana Lancar Tbk (PART) optimistis strategi diversifikasi usaha ke sektor non-komponen otomotif akan semakin memperkuat kinerja perseroan sepanjang 2026.
Direktur Cipta Perdana Lancar (PART) Tjoeng Rino Saputra menyatakan, dengan tetap mempertahankan bisnis komponen otomotif sebagai bisnis inti, PART mulai mengembangkan sumber pertumbuhan baru melalui kegiatan fabrikasi mesin dan peralatan untuk berbagai kebutuhan industri.
"Strategi tersebut mulai dikembangkan sejak semester II-2025 sebagai langkah perseroan untuk memperluas portofolio usaha dan mengurangi ketergantungan terhadap satu segmen industri," ujarnya dalam keterangan resmi, Jumat (28/8/2026).
Saat ini, bisnis non-otomotif PART mencakup produksi berbagai jenis mesin untuk kebutuhan pertanian serta peralatan rumah tangga yang berkaitan dengan program pemerintah maupun non-pemerintah di sektor pertanian dan industri makanan dan minuman.
Diversifikasi tersebut tidak menggantikan bisnis komponen otomotif yang selama ini menjadi fondasi PART. Perseroan tetap melihat bisnis otomotif memiliki prospek pertumbuhan positif, sementara bisnis non-otomotif dikembangkan sebagai complementary growth engine yang diharapkan dapat memperluas pasar, meningkatkan utilisasi kemampuan fabrikasi perseroan, dan memberikan kontribusi tambahan terhadap pendapatan dan laba.
Dia menyampaikan, dampak strategi tersebut mulai tercermin dalam proyeksi kinerja keuangan perseroan. Pada 2026, PART memproyeksikan pendapatan sebesar Rp413,62 miliar, meningkat sekitar 11,91 persen dibandingkan pendapatan 2025 sebesar Rp369,59 miliar.
Pertumbuhan laba diproyeksikan lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan pendapatan. Laba bersih 2026 diproyeksikan mencapai Rp44,16 miliar, meningkat sekitar 46,18 persen dibandingkan laba bersih 2025 sebesar Rp30,21 miliar.
Perbaikan tersebut juga diperkirakan tercermin pada profitabilitas perseroan. Margin laba bersih diproyeksikan meningkat dari 8,17 persen pada 2025 menjadi 10,68 persen pada 2026, sedangkan margin laba usaha diproyeksikan meningkat dari 10,99 persen menjadi 14,12 persen.
Perseroan juga memproyeksikan laba per saham (earnings per share/EPS) sebesar Rp15,49 per saham pada akhir 2026, dibandingkan Rp11,29 per saham pada 2025.
"Mengacu pada pengalaman pelaksanaan bisnis selama 2025, kontribusi segmen non-otomotif diperkirakan semakin terlihat pada semester II 2026, terutama mulai kuartal III dan berpotensi mencapai tingkat aktivitas yang lebih tinggi pada kuartal IV," kata Tjoeng.
Per Juni 2026, PART telah membukukan pendapatan sebesar Rp177,64 miliar dan laba bersih Rp9,11 miliar. Dengan demikian, perseroan melihat semester II 2026 sebagai periode penting dalam pencapaian target kinerja setahun penuh, sejalan dengan peningkatan kontribusi dari kegiatan usaha non-otomotif.
Tjoeng menyampaikan, strategi perseroan diarahkan untuk menciptakan pertumbuhan yang lebih berkualitas dan berkelanjutan.
“Diversifikasi yang kami lakukan bukan untuk meninggalkan bisnis otomotif, tetapi untuk memperkuat PART melalui sumber pertumbuhan baru. Kami tetap menjaga bisnis komponen otomotif sebagai fondasi utama, sekaligus mengembangkan kemampuan fabrikasi perseroan untuk menangkap peluang di sektor non-otomotif. Kami berharap kombinasi kedua segmen ini dapat mendorong pertumbuhan pendapatan sekaligus meningkatkan profitabilitas perseroan secara berkelanjutan,” ujarnya.
Selain peningkatan laba, posisi keuangan perseroan juga diproyeksikan tetap bertumbuh. Pada akhir 2026, total aset diproyeksikan mencapai Rp424,34 miliar, dibandingkan Rp335,71 miliar pada akhir 2025, sementara ekuitas diproyeksikan meningkat menjadi Rp234,55 miliar dari Rp184,85 miliar.
Dengan fundamental bisnis otomotif yang tetap dipertahankan dan pengembangan segmen non-otomotif sebagai sumber pertumbuhan baru, PART optimistis dapat membangun struktur usaha yang semakin terdiversifikasi dan meningkatkan penciptaan nilai bagi pemegang saham dalam jangka panjang.
(Dhera Arizona)