sosmed sosmed sosmed sosmed
get app
Advertisement

Dollar-Cost Averaging (DCA): Strategi Sederhana bagi Investor Saham Jangka Panjang

Market news editor Shifa Nurhaliza Putri
21/07/2026 11:31 WIB
Dengan strategi Dollar Cost Averaging (DCA) melalui aplikasi investasi saham, kamu bisa berinvestasi secara konsisten dan konsistensi inilah yang menjadi kunci.
Dollar-Cost Averaging (DCA): Strategi Sederhana bagi Investor Saham Jangka Panjang (Foto: Ilustrasi)
Dollar-Cost Averaging (DCA): Strategi Sederhana bagi Investor Saham Jangka Panjang (Foto: Ilustrasi)

IDXChannel - Punya aktivitas padat tapi tetap ingin mengembangkan aset di pasar saham? Kamu tidak harus memantau pergerakan harga setiap hari. Dengan strategi Dollar Cost Averaging (DCA) melalui aplikasi investasi saham, kamu bisa berinvestasi secara konsisten dan konsistensi inilah yang menjadi kunci pertumbuhan aset dalam jangka panjang.

Apa Itu Dollar-Cost Averaging dan Kenapa Strategi Ini Relevan

Dollar-Cost Averaging adalah strategi investasi dengan menempatkan dana secara rutin (misalnya tiap bulan) dalam jumlah tetap, terlepas dari kondisi harga saham sedang naik atau turun. Logikanya sederhana, karena dana yang diinvestasikan tetap, saat harga turun otomatis kamu dapat lebih banyak lot atau lembar saham, dan saat harga naik kamu dapat lebih sedikit.

Ini membuat rata-rata harga beli (average cost) jadi lebih terkendali dibanding kalau kamu all-in di satu waktu. Strategi ini sangat relevan untuk kondisi market yang naik-turun tajam (volatile) karena DCA membantu investor terhindar dari risiko "salah timing" beli di puncak harga.

Bagaimana DCA Bekerja di Saham Blue-Chip

Mari kita lihat contoh sederhana. Misalnya kamu konsisten menyisihkan dana Rp1 juta tiap bulan untuk dibelikan saham blue-chip pilihan seperti BBRI, BMRI, dan TLKM. Harga saham-saham ini bergerak fluktuatif setiap bulan: kadang naik, kadang turun.

Dengan DCA, rata-rata harga beli kamu setelah beberapa bulan akan cenderung mendekati rata-rata harga pasar selama periode tersebut, bukan bergantung pada satu titik waktu. Bandingkan dengan skenario beli sekaligus di satu waktu yang kebetulan harganya sedang tinggi. Risiko overpaying jadi jauh lebih besar.

Halaman : 1 2 3
Advertisement
Advertisement